Sekarang zaman enak, teknologi canggih

Namanya Rambun Panenan, dipanggil Rambun. Remaja lima belas  tahun itu , terdiam sebeku tugu, ketika di ceramahin bapaknya di pagi itu.

“Sekarang zamannya udah enak, teknologi  canggih,  ilmu  apa saja hampir bisa didapetin di internet. Orang bisa  belajar  secara otodidak  dari browsing-browsing di internet dan  nonton video tutorial di YouTube. Asal ada kemauan  untuk berlatih, asal ada kemauan learning everything, apa aja bisa masuk ke otak. Itu kalau teknologi internet digunakan sebagai alat (tools ) bukan semata untuk mainan (toys)” kata ayah Rambun menasehati anaknya.

Rambun, remaja milenial, malasnya bukan buatan. Guru dan kawan sekelasnya menjadi heran. Orang belajar dia bermain. Buku diganti dengan yang lain. Kadang  di kelas mengantuk-ngantuk. Kepala botaknya mengangguk angguk. Kadang dia tertidur dan tiba-tiba berbunyi “buuum’. Rupanya kepalanya  sedang diadu melawan bangku.

Ketika sekolah daring diberlakukan selama  pandemi, Rambun semakin pemalas. Di sekolah saja dia malas belajar apalagi di rumah. Rambun makin   malas  dan tergoda untuk main game di ponselnya.  Sementara  pelajaran berlangsung secara virtual, dia  malah main atau tidur. Pantas saja, remaja lima belas  tahun itu , terdiam sebeku tugu, ketika di ceramahin bapaknya.

Semua perilaku anak dan nilai-nilai berasal dari rumah. Remaja belasan  tahun belum punya passion dan  tujuan yang jelas.  Orang tua harus membantu anak untuk menemukan  passionnya. Bantu mereka membangun mimpi. Bantu anak membangun   kemampuan kreatif yang disukainya. Banyak kemampuan kreatif yang bisa didalami.

Seorang psikolog bernama John Houtz, pernah mengatakan bahwa kreativitas tidak terbatas pada kreativitas besar  yang sifatnya mahakarya dan revolusioner, seperti lukisan Da Vinci atau lampu Edison. Ada   kreativitas kecil  yaitu kelihaian atau kecerdikan yang dapat kita gunakan untuk memecahkan masalah sehari-hari. Kreativitas itu bukan bakat, melainkan sesuatu yang harus diusahakan dengan kerja keras.  Orang-orang kreatif adalah mereka yang memiliki kedisiplinan untuk terus menciptakan ide-ide baru dan ketekunan untuk mewujudkan ide-ide mereka. John Houtz,  menekankan bahwa kreativitas bukanlah suatu bakat yang dianugerahkan sejak lahir.  

“Sekarang zamannya sudah enak, kamu harus kreatif “ kata bapak Rambun lagi.

“ Orang kreatif  suka  hal-hal baru dan selalu ingin menambah dan memperluas  wawasan. Memperluas wawasan bisa  belajar  secara otodidak  dari browsing-browsing di internet dan  nonton video tutorial di YouTube.  Menjelajahi situs-situs pengetahuan populer seperti Wikipedia dapat  memperkaya pengalaman dan pengetahuan”.

Generasi milennial seperti Rambun  dilahirkan oleh internet.  Berbeda dengan pendahulunya, generasi millenial ini   memiliki gaya hidup teknologis dengan mengkonsumsi  produk teknologi seperti ponsel. Ber sosial media (sosmed) menjadi kesibukan mereka sehari-hari. Mereka cenderung menggunakan ponsel berlebihan. Dari sebuah penelitian, remaja milenial menggunakan ponsel   8 sampai 10 jam sehari. Tangannya tidak bisa lepas dari ponsel. Mereka takut ketinggalan informasi dan trend. Mereka lebih peduli dunia maya dari pada dunia nyata.

Kemajuan teknologi internet tidak hanya memberi dampak positif, tapi dapat berimplikasi buruk pada kesehatan mental anak. Menurut studi Juornal  of abnormal psychology, ponsel menjadi salah satu penyebab gangguan mental yang menjerat remaja milennial. Remaja rentan depresi dan bisa mengalami  sindrom  Fear of misssing out (Fomo),  yaitu kecemasan ketinggalan informasi dan trend di internet.  Disamping itu, konten sosmed yang berisi rumor, gunjingan dan hoaks yang dipindahkan menjadi informasi dapat merusak mental  anak.

Di era ini, anak memang  harus menguasai teknologi internet , karena berbagai aktivitas kehidupan bersifat digital. Namun  diperlukan pula soft skill. Sekarang sekolah tidak hanya melihat nilai akademik untuk melanjutkan studi, tapi  prestasi merupakan salah satu jalur untuk melanjutkan studi.    Disini,  orang tua harus membantu anak untuk menemukan  passionnya. Bantu anak membangun   kemampuan kreatif yang disukainya sehingga anak dapat membangun prestasi.

“Sekarang zamannya udah enak, teknologi  canggih,  ilmu  apa saja hampir bisa didapetin di internet. Akdemis dan ketrampilan adalah sama sama  ilmu yang produknya berbeda.  Kedua ilmu itu dapat dipelajari secara otodidak  dari browsing-browsing di internet dan  nonton video tutorial di YouTube. Asal ada kemauan  untuk berlatih” , kata bapak Rambun mengulang ulang nasehatnya.

Rambun Panenan mulai sadar, dia akan menggunakan ponselnya sebagai alat belajar tidak semata sebagai alat permainan. “Ponsel adalah tools bukan toys” katanya dalam hati.