Sakitnya dituduh Selingkuh

Resensi buku

Judul buku          : Possessive Husband

Pengarang Buku :  Evathink

Penerbit Buku     : PT. Buku Pintar Indonesia

Tahun Terbit       : 2018

Tebal Buku          :  219 halaman

ISBN                     : 602 – 5849 – 29 – 3

“Aku akan membunuhnya bila kau masih mencintainya”.

Ini  sebuah quote yang tertulis  di sampul buku dan  merupakan dialog yang mengakhiri cerita dalam novel Possessive Husband. Novel roman dewasa ini membuka selubung dunia perkawinan, di antaranya, kekerasan dalam rumah tangga.  Selama ini hanya kekerasan fisik yang  dipahami sebagai kekerasan dalam rumah tangga. Berkaitan dengan kekerasan verbal dan mental,   perempuan banyak   menjadi korbannya   sering  diabaikan. Inilah yang membuat  saya tertarik  membaca buku ini.

Possessive Husband   merupakan novel ketiga dari Evathink.  Penulis ini sering berkisah mengenai relasi  interpersonal antara seorang laki-laki dan perempuan. Dalam buku ini  digambarkan relasi pasangan suami isteri (pasutri) muda dalam menjalani  rumah tangga. Komunikasi merupakan hal penting dalam keluarga. Bila pasutri sering  melemparkan kata kata penuh kemarahan, kebencian dan kecemburuan, komunikasi bersifat toxic yang berpotensi melahirkan toxic relationship dan dapat  berujung dengan toxic marriage. Ini salah satu hal yang menarik dari buku ini.  

Novel ini menceritakan  Aisha, perempuan muda  jelita yang  menikah dengan Dave, laki laki  tampan, kaya, ganteng,  romantis, tetapi arogan dan posesif. Setelah menikah, Aisha seolah-olah hilang ditelan bumi. Hidup  dirasa pahit oleh Aisha seolah sebagai tawanan suami. Kalau Aisha meninggalkan rumah, suaminya selalu mengeceknya, bertanya dia  di mana dan sedang bersama siapa. Aisha   memutuskan kontak dengan semua teman laki-lakinya karena sering dituduh selingkuh.

Memiliki suami tampan, kaya, ganteng dan   romantis adalah dambaan setiap perempuan. Namun jika suami terlalu posesif, cemburu berlebihan sehingga  mengekang dan sering mengancam,  hidup  ini bagai   pohon meranggas. Hidup segan mati tak mau. Masih banyak orang yang belum memahami bahwa sikap mengekang, mengancam dan menuduh selingkuh  termasuk dalam kategori kekerasan verbal dan mental.  Karena   tidak pernah dipukul, isteri  tidak pernah merasa bahwa apa yang  dilakukan terhadap dirinya  termasuk dalam kategori kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menggariskan bahwa ruang lingkup tindakan KDRT adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman.

Aisha berang dan sedih dituduh selingkuh oleh suaminya.  

“Jadi karena itu kamu berubah? Karena  jatuh cinta pada laki-laki lain?” tuduh Dave berang.

“Jangan menuduhku seperti itu” kata Aisha tak suka.  Bukankah kamu  tahu alasannya? Ia ingin mengajak kita makan siang dan kamu tidak ada di rumah”.

“Kalau dia juga mengajakku mengapa tidak meneleponku?”serang Dave kesal.

   Ia tahu Aisha berbohong. (halaman 142)

Dituduh selingkuh merupakan kekerasan verbal dalam rumah tangga yang sering kali tidak disadari. Cinta  indah pada waktu pacaran, sering berubah menjadi petaka setelah menikah. Isteri korban kekerasan verbal akan mengalami tekanan emosional. Pada kekerasan fisik, luka memar akan dapat sembuh dengan sendirinya, tetapi luka hati tak dapat sembuh dengan mudah. Dituduh selingkuh  akan membuat korban depresi dan sedih.

“Yuk ikut konseling perkawinan,“ itu tawaran berbagai lembaga konseling  di berbagai situs google untuk pasangan yang tidak harmonis, seperti Aisha.  

“Setelah mendapatkan konseling, hubungan kami menjadi lebih baik dan semoga kami dapat selalu membangun serta menjaga keharmonisan rumah tangga kami,“ testimoni seorang ibu muda setelah menerapkan nilai-nilai penting yang sudah diberikan  sebuah lembaga konseling perkawinan.

Membaca dan memahami novel ini secara keseluruhan memberikan pesan tersirat bahwa relasi suami isteri adalah mitra sejajar, bukan relasi kuasa. Relasi kuasa dapat menjurus kepada toxic relationship. Mitra sejajar atau kesetaraan gender dapat ditegakkan dalam dunia bila dimulai dari rumah tangga. Isu kesetaraan gender sudah meluas secara global. Isu ini  diusung oleh  Feminisme sejak abad ke – 19, dikaji secara ilmiah,  merambah ke berbagai lini kehidupan, termasuk ke dunia Islam.  Feminisme adalah kesadaran  akan ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut.

Pesan lain yang dapat ditarik dari novel ini adalah tentang komunikasi antar pasangan. Banyak  orang sulit berkomunikasi dengan pasangannya. Lebih dari lima menit berbincang-bincang perbantahanpun datang, lalu marah marah seperti yang dialami Aisha. Suaminya yang arogan dan posesif bisa marah  secara tiba-tiba, bila Aisha keliru menyebut sesuatu. Aisha  bingung bagaimana menjalin komunikasi yang baik dengan suaminya.   

Novel ini memiliki gaya bahasa yang cukup menarik untuk dibaca, memberikan kenyamanan para pembaca saat menyimak setiap alur ceritanya. Buku ini penting dibaca  oleh pasangan muda dan pasangan pranikah.

Sekian.