Perempuan perlu berpolitik

Tidak dapat diingkari bahwa  perempuan masih mengalami diskriminasi sosial-politik atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa perempuan masih teringkus dalam budaya patriarkhi. Walaupun sesungguhnya perbedaan perempuan dan laki -laki hanyalah  perbedaan biologis bukan fungsi sosial-politik, tetapi selama ini kebudayaan dibangun oleh laki-laki, maka norma dan peraturan disusun berdasarkan kepentingan laki-laki. Perempuan menjadi bagian dari laki-laki  bukan merupakan mitra sejajar, akibatnya peran politik perempuan  belum optimal.

Membaca kondisi perempuan lebih lanjut, kemiskinan di Indonesia banyak diderita oleh perempuan. Dalam kondisi kemiskinan yang melanda rakyat di negeri ini, perempuan menjadi mahluk yang paling dirugikan. Kemiskinan membuat perempuan sulit mengakses sektor yang berhubungan dengan kebutuhan hidup. Status kesehatan perempuan menjadi rendah  yang berdampak pada tingginya anemia dan resiko tinggi pada kehamilan dan persalinan. Kondisi tersebut menyebabkan tingginya ketidakberdayaan perempuan dalam membina rumah tangganya apalagi berpartisipasi dalam pembangunan.

Disamping itu, beban kerja perempuan  sangat berat, karena memiliki multifungsi dengan keterbatasan waktu dan tenaga. Karena  sebagian besar perempuan Indonesia masih berpendidikan rendah, sulit untuk  mencari nafkah, kalaupun  ada yang mendapat pekerjaan, upah yang diterima relatif lebih rendah.