Pelajaran jarak jauh

Untuk tetap menjalankan sektor pendidikan selama pandemi covid 19, pemerintah membuka pelajaran jarak jauh ( PJJ) yang disebut juga sekolah daring. Setelah menjalankan PJJ selama satu setengah tahun ternyata timbul berbagai masalah : masalah teknis seperti ketersediaan  infrastruktur khususnya infrastruktur teknologi dan aplikasi,   masalah kemampuan anak dan orang tua untuk mendukung sistem ini dan juga masalah kuota bagi orang tua yang kurang mampu.

Ini beberapa cerita ttg PJJ

Seorang sahabat facebook bercerita bahwa anaknya yang  kelas 3 SMP suka panik dan marah-marah kalau kesulitan mengerjakan soal-soal matematika.  Sahabat ini ngak bisa membantu anaknya karena tidak mengerti matematika . Dia cuma ngomel “sekolah daring bikin pusing”. 

Sahabat yang lain menulis dalam postingan tik tok.

“ Anakku masih di SD, ketika kuajarin pelajaran Pancasila dirumah dia tidak mau fokus dan serius , malah bercanda .

Ku tunjuk gambar bintang dalam Pancasila, lalu kutanya

Ini gambar apa , jawabnya bintang, bagus jawabku.

Lalu kutunjuk gambar padi dan kapas

Ini gambar apa? , jawabnya sate

 Lalu kutunjuk gambar kepala banteng

Ini gambar apa , jawabnya kepala kijang”.

Ibu-ibu bisa tak sabar mengajari anaknya dan anak tidak mau belajar.

Disamping itu, seorang anak menulis keluhannya tentang PJJ. Keluhan disusun dalam pantun.

“Daun talas di atas nyiru

Ambil selembar pembungkus bumbu

Covid 19 cepatlah berlalu

Ibu ku tak berbakat jadi guru”

Mulai September 2021 qalau masih PPKM dilaksanakan pelajaran tatap muka (PTM) . Pembelajaran tatap muka ini disebut sebagai PTM terbatas, yang maksudnya sebagian mata pelajaran dilaksanakan secara PJJ sebagian PTM , Pembelajaran campuran ini disebut Blendid learning.

Kebijakan untuk melaksanakan PTM ini mendapat reaksi pro dan kontra. Banyak Orang tua yang khawatir anaknya tertular covid 19. Karena banyak yang khawatir sejumlah sekolah memutuskan menunda uji coba karena berbagai alasan. Memang salah satu syarat sekolah tatap muka adalah izin dari orangtua. Sebagian orang tua tidak memberi izin anaknya untuk pelajaran tatap muka. Tak mungkin sekolah mampu memberikan personal attention pada anak, sehingga anak yang belum paham betul bahayanya covid 19 bisa saja melanggar protokol kesehatan di sekolah. Apalagi kalau asyik bermain dengan teman-temannya.

Tapi sebagian orang tua menilai Pelajaran Tatap Muka perlu. Dinilai Lebih Efektif. Dirumah anak malas belajar dan tergoda untuk main game saja. . Awalnya anak memang senang sekolah daring, tapi lama kelamaan bosan dan terkurung di rumah sebagian anak stres tak ketemu teman-temannya. Mereka tak senang belajar di rumah . Sementara pelajaran berlangsung secara virtual, anak malah main atau tidur.

Apa yang diperlukan anak sekarang dalam belajar? Sekarang perlu belajar ilmu akademis dan non akademis. Keduanya ilmu tapi otputnya berbeda . Ke depan akademis dan non akademis sama sama dibutuhkan anak, seperti life skill, teknical skill, digital skill . Orarng tua sesungguhnya bisa berperan untuk melatih anak ilmu non akademis atau ketrampilan. Beri anak ketrampilan apa yang disukai anak.

Sementara itu, anak dan juga orang tua perlu meningkatkan digital skill. Sekalipun pandemi usai distrupsi yang terjadi selama pandemi akan tetap berlanjut dan aktivitas digital akan terus berlanjut. Maka itu, tetaplah tingkatkan ketrampilan digital. Tingkatkan pemahaman literasi digital. Bila tak cakap digital menyulitkan hidup bahkan dapat jadi korban aktivitas digital orang lain ( penipuan digital). Sekarang, tak perlu pintar-pintar benar di sekolah, tapi dengan melatih dan meningkatkan berbagai ketrampilan, anak akan mampu mempelajari hal baru secara cepat.