Mertua – Menantu, Relasi Kuasa ?

Bila dulu orang mengagung-agungkan relasionalitas, kini mulai disadari bahwa relasionalitas perlu dibenahi. Relasi antar manusia mulai tidak sehat. Konflik muncul dimana-mana , tidak terkecuali dalam relasi mertua – menantu.

Entah darimana harus kumulai kisah ini. Ini kisah diri dalam relasi mertua-menantu. Sebenarnya aku malu menulis kisah diri, karena tidak terkait dengan urusan publik.  Prinsipku selama ini, masalah pribadi tidak perlu dibagi dengan orang lain.  Namun, training di  kelas menulis di sekolah “Perempuan  Menulis”, memprogram penulisan kisah diri, bisa kisah  sebagai mertua ataupun sebagai menantu. Tentu saja kisah ini, kisah relasi  mertua perempuan dan menantu perempuan.

Setelah kurenung, ya ada manfaatnya juga menulis kisah diri terutama relasi  mertua -menantu yang sering dipandang penuh kerawanan. Memang, banyak cerita tentang hal ini, sehingga muncul pendapat bahwa relasi mertua- menantu adalah relasi kuasa.    Relasi  mertua – menantu merupakan relasi antar dua perempuan dewasa yang bertemu dalam ruang keluarga karena pernikahan. Kehadiran menantu di ruang keluarga sering dipandang sebagai kompetitor bagi mertua.  Demikian pula sebaliknya.

Eeeh,  aku kok berciloteh tentang sebuah konsep (teks), bukan menulis sebuah kisah dalam bentuk  story telling,seperti yang diminta. Aku memang  biasa menulis hal-hal konseptual ,  menulis cerita dalam bentuk  story telling , aku belum tahu caranya. Maka itu, aku mendarat di sekolah “ Perempuan Menulis”  ini.

Okey, aku mau mengawali kisah ini  dengan memperkenalkan diri sebagai mertua dari empat menantu perempuan. Aku memiliki empat anak, semuanya laki-laki.  Semua putraku ini telah berkeluarga bahkan  putra sulung sudah jelita alias jelang lima puluh tahun. Sibungsu hampir empat puluh tahun dengan anak tiga. Para menantuku berasal dari suku-suku yang berbeda, tapi masih dalam keimanan yang sama.

Relasiku dengan keempat menantuku itu,  tidak tahu, mau dinamakan apa. Relasi kuasa ? Ada menantu yang menuding  aku sangat berkuasa atas keluarga mereka. Suatu kali kudengar salah seorang menantuku curhat pada temannya:

” Entah kenapa dadaku terasa sesak, jantungku berdebar tak berirama, ubun-ubunku serasa mendidih menyaksikan bagaimana suamiku menyambut dan memperlakukan ibunya dengan begitu mulia. Suamiku selalu mendahulukan kepentingan ibunya dibandingkan aku. Aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini”.

Disamping ada menantu yang menuding  aku sangat berkuasa atas keluarga mereka,  tapi aku  juga merasa   ada menantu yang meremehkan  aku. Ketika ada menantu yang berkelakuan seperti anak kecil, aku hanya marah, tapi bila ada menantu yang memperlakukanku seperti  anak kecil (meremehkan) hati ini pedih teriris, t e r l u k a.  Ini cuplikan kesedihan aku.

Sembilan bulan tiga hari,dia meringkuk dalam perutku. Ketika dia berontak ingin keluar, kupacu segenap tenaga agar dia lahir ke dunia. Ketika menidurkan dan menenangkannya bila rewel, kunyanyikan lagu-lagu. Kunyanyikan lagu dari lubuk hati.

Bila sudah mau tidur, kebelai kepalanya. Matanya pasrah menyerah dan pelan-pelan mengecil hingga akhirnya menutup, tertidur dibawah kasih.

Kini mereka telah menjadi laki-laki dewasa.  dipangku oleh perempuan lain. Ketika ada menantu berkelakuan seperti anak kecil, aku hanya marah, tetapi ketika  memperlakukan aku seperti anak kecil,  hati ini terluka………………………………………………