MEMBONGKAR  MITOS TULANG RUSUK

MEMBONGKAR MITOS TULANG RUSUK

Pengantar

Isu penciptaan perempuan merupakan isu paling penting dan  mendasar untuk dibicarakan baik ditinjau secara  filosofis maupun  teologis, sebab konsep kesetaraan atau ketidakasetaraan gender dapat dilacak dari konsep penciptaan ini.  Dalam cerita  penciptaan perempuan  lahir mitos tulang rusuk yang mengatakan bahwa  asal usul  perempuan berasal dari tulang rusuk  laki-laki. Implikasi dari pandangan ini kedudukan perempuan dipandang lebih rendah dari laki-laki. Kemanusiaan perempuan dipandang tidak utuh dan eksistensi perempuan hanya melengkapi dan melayani laki-laki. Anggapan ini mengakibatkan perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi yang disebut dengan ketidakadilan gender. Maka itu, mitos tulang rusuk harus dibongkar.

Tafsir klasik

Dalam kitab-kitab  tafsir klasik seperti kitan tafsir  Ibnu Katsir ditemukan pandangan yang menggambarkan perempuan sebagai manusia yang tidak utuh dan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Pandangan ini bersumber dari penafsiran ayat mengenai penciptaan manusia Qs.Annisa/4:1 yang ditafsirkan oleh Ibnu Katsir sebagai berikut:

Allah berfirman memerintahkan makhluknya untuk bertaqwa kepada-Nya. Yaitu beribadah hanya kepada Allah yang tidak ada sekutu baginya serta menyadarkan mereka tentang kekuasaan-Nya yang telah menciptakan mereka dari satu jiwa, yaitu Adam. Dan daripadanya Allah menciptakan isterinya yaitu Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam bagian kiri dari belakang (Ibnu Katsir )[1]

tulang-rusuk-pria

Di dalam hadis dapat pula disimak:

 Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika engkau memaksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Tetapi jika engkau bersenang-senang dengannya, maka bersenang-senanglah dengannya, sedangkan padanya terdapat kebengkokan.[2]

Mitos tulang rusuk merendahkan perempuan dan menimbulkan efek-efek negatif dalam relasi gender. Kepada perempuan diberikan status inferior dan rendah, perempuan dipandang lemah, emosional, tidak cakap secara intelektual dan spiritual dan eksistensi perempuan hanya untuk alat reproduksi atau penerus generasi. Berakar dari mitos ini, penafsiran ayat-ayat gender dalam Alquran, selalu merugikan perempuan.  Perempuan selalu digambarkan sebagai the second class (kelas dua) tidak sederajat dengan laki-laki dan selalu dipinggirkan.

Penafsiran ayat penciptaan seperti di atas melahirkan pandangan bahwa perempuan diciptakan dari varitas yang lebih rendah  kualitasnya dari varitas laki-laki karena perempuan diciptakan dari bagian kecil dari tubuh laki-laki (tulang rusuk). Pandangan ini memberi implikasi bahwa perempuan adalah mahluk yang secara ontologis adalah sekunder lalu pada perempuan disandangkan nilai-nilai seperti  perempuan makhluk lemah,  secara intelektual tidak cakap  dan secara spiritual tidak memadai. Nilai-nilai yang disandangkan pada perempuan itu telah digunakan untuk mengklaim bahwa perempuan tidak cocok untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu  atau untuk menjalankan beberapa hal dalam masyarakat.

Penciptaan perempuan dari tulang rusuk telah menjadi mitos yang dipercaya begitu saja dan tidak boleh dipertanyakan lagi karena dipandang wahyu Illahi.  Mitos ini  jelas telah  merugikan perempuan dan telah  menghadirkan implikasi yang dalam yaitu kekerasan. Maka itu, mitos tulang rusuk harus dibongkar.

Hermeneutika feminisme

Penolakan terhadap mitos tulang rusuk dalam cerita penciptaan perempuan dapat disimak dari pemikiran beberapa intelektual Islam.  Intelektual feminis Islam  menggunakan pendekatan hermeneutika feminisme untuk membongkar bias gender dalam penafsiran Alquran untuk direinterpretasi. Menyadari bahwa otoritas religius klasik telah memonopoli semua bidang pengetahuan Islam, termasuk tafsir Alquran, maka mereka  melakukan studi tafsir Alquran berbasis feminis untuk mengevaluasi peran dan kedudukan perempuan dalam Alquran, dengan fokus perhatian pada kesetaraan gender dan keadilan sosial.[3]

TULANG RUSUK NABI ADAMPenafsiran Alquran dengan pendekatan hermeneutika feminisme adalah penafsiran Alquran yang mengacu kepada ide kesetaraan dan keadilan gender atau penafsiran Alquran berbasis feminis. Tafsir Alquran berbasis feminis muncul pada akhir abad 20 ketika timbul gerakan pembaharuan  Islam di seluruh dunia muslim. Penafsiran Alquran  berbasis feminis pada umumnya menggunakan tiga metode interpretasi Alquran yaitu metode kontekstualisasi historis, metode intratekstual dan paradigma tauhid, seperti yang dilakukan oleh Amina Wadud, Asma Barlas, Riffat Hassan, Musdah Mulia dan lainnya. [4]   Tokoh-tokoh ini telah  mengaplikasikan hermeneutika feminisme untuk membongkar mitos tulang rusuk yang mewarnai tafsir Alquran selama ini. Tokoh-tokoh feminis Islam ini menolak  mitos tulang rusuk, mereka berpendapat bahwa mitos  tulang rusuk merupakan penafsiran  keliru yang  harus diluruskan. Semua ajaran yang menerangkan tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam tidak mempunyai landasan pembenaran pada Alquran. Menurut Musdah Mulia, sepanjang pembacaannya terhadap Alquran tidak ditemukan soal penciptaan perempuan.[5]

 

Aplikasi Hermeneutika Feminisme

          Mitos tulang rusuk dapat dibongkar dengan  pendekatan hermeneutika linguistik yaitu melacak  kata kunci dalam  ayat-ayat yang membicarakan penciptaan  manusia seperti Qs. An-nisa /4: 1 dan  Qs. al-Baqarah/2:30. Ungkapan  nafs wahidah dalam  ayat Qs. An-nisa /4: 1 dan ungkapan khalifah fil ardh dalam Qs. al-Baqarah/2:30 memberi makna bahwa  Alquran  tidak membedakan penciptaan laki-laki dan perempuan, manusia secara sengaja diciptakan dalam berpasangan, secara setara dan sederajat atau dengan kata lain, penciptaan manusia netral gender .

          Alquran menyebutkan  bahwa manusia berasal dari nafs wahidah ( nafs yang satu) , yang dapat dimaknai bahwa kejadian laki-laki dan perempuan berasal dari roh yang satu. Nafs atau ruh  diciptakan berpasangan. Dualisme merupakan karakteristik penciptaan (semua diciptakan berpasangan). Versi Alquran tentang penciptaan manusia memperlihatkan hubungan yang khusus antara Tuhan dan manusia. Hubungan ini merupakan dasar eksistensi Alquran.[6]

Munculnya mitos tulang rusuk karena keliru menafsirkan ungkapan  nafs wahidah ( nafs yang satu) dalam ayat di atas. Perbedaan dalam menafsirkan ungkapan ini akan  mempengaruhi penafsiran terhadap ayat tersebut. Muffasir  klasik menafsirkan nafs wahidah sebagai ruh yang satu yaitu Adam (laki-laki), sehingga berimplikasi terhadap perempuan dimana perempuan terkesan lebih rendah dari laki-laki, karena tidak diciptakan secara bersamaan dengan laki-laki. Ditambah dengan cerita bahwa perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki  telah memposisikan perempuan secara natural  rendah dari laki-laki.

Ungkapan  khalifah fil Ardh dalam Qs. al-Baqarah/2:30 mendukung bukti bahwa  Alquran  tidak membedakan penciptaan laki-laki dan perempuan.  Dalam surat ini dinyatakan bahwa semua manusia dipandang sebagai  khalifah fil ardh. Ungkapan  khalifah fil ardh  netral gender, sehingga perempuan sebagai manusia  merupakan  khalifah fil ardh atau potensi Tuhan  di bumi.[7]  Sesuai ayat ini, posisi manusia laki-laki dan perempuan sangat spesifik dan terhormat di muka bumi yaitu menjadi khalifah fil Ardh. Dari Qs. al-Baqarah/2:30 dapat ditafsirkan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah menjadi khalifah, yaitu pengelola atau pemimpin di bumi. Dalam tata bahasa Arab, kata khalifah itu netral gender, jadi semua manusia adalah khalifah yang akan mempertanggungjawabkan tugas kekhalifahannya itu kelak dihadapan Tuhan. [8]

Mahmud Syaltut mantan pemimpin tertinggi lembaga-lembaga Al-Azhar di Mesir pernah mengatakan (1959),  seperti yang dikutip Quraish Shihab, bahwa dasar kemanusian laki-laki dan perempuan adalah  sama. Allah memberi anugerah pada perempuan seperti anugerah yang diberikan pada laki-laki. Laki-laki dan perempuan telah diberi Allah potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggungjawab dan menjadikan kedua gender dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus.[9]

Dengan pembacaan intratekstual  terhadap ayat penciptaan manusia seperti dipaparkan di atas, dapat dibuktikan bahwa  Alquran tidak membedakan penciptaan antara laki-laki dan perempuan. Alquran  menyatakan bahwa manusia diciptakan berpasangan (dualisme penciptaan), Perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan dalam Alquran tidak dibedakan, yang membedakan antara kedua gender ini adalah  taqwa. Kata  kata kunci dalam ayat tentang penciptaan manusia nafs wahidah  dan khalifah fil ardh telah merekonstruksi semua dimensi eksistensi manusia mulai dari penciptaan, kemudian menyatakan keberpasangan yaitu laki-laki dan perempuan dan ayat ini juga memberi pemahaman  bahwa setiap manusia adalah keturunan seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Respon filosofis mengenai mitos tulang rusuk dapat ditelusuri sebagai berikut. Bila nafs wahidah  adalah Adam dan Hawa berasal dari tulang rusuk  Adam, berarti  embrio penciptaan laki-laki adalah ruh dan embrio penciptaan perempuan adalah fisik (tulang rusuk).  Fisik adalah perangkat ruh ( Plato) sehinga dapat berarti bahwa laki-laki diciptakan sempurna, perempuan diciptakan kurang sempurna sehingga untuk menjadi sempurna, perempuan harus kawin dengan laki-laki. Implikasi lain dapat pula dikemukakan. Bila laki-laki adalah ruh, (dalam filsafat Rene Decartes,  ruh berarti  pemikiran),   maka perempuan bukan pemikiran. Bila perempuan bukan pemikiran, maka perempuan tidak ada, karena “Aku berpikir Aku ada “ (Rene Decartes). Di sisi lain, bila perempuan tanpa pemikiran, maka perempuan adalah manusia tanpa kepala. Karena perempuan adalah manusia tanpa kepala, maka itu perempuan diharuskan  menutup kepalanya (hijab). Analisis filosofis mengenai mitos tulang rusuk, memperkuat bahwa mitos ini harus ditolak.

Nawal El Saadawi, seorang sastrawan feminis terkemuka (Mesir) menolak mitos tulang rusuk. Dia mengemukakan bahwa  bila laki-laki ditafsirkan sebagai ciptaan yang sempurna maka  laki-laki dipandang sebagai bayangan Tuhan ( Tuhan Sempurna). Sementara itu, perempuan dipandang  tidak sempurna bila tidak dikawinkan dengan laki-laki. Dengan demikian, Tuhan adalah laki-laki, sehingga seluruh nabi dan Rasul berkelamin laki-laki.[10] Pandangan Nawal ini di bantah oleh intelektual lain dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak berkelamin, Tuhan adalah ruh dan memiliki sifat maskulin (father of God)  seperti Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Kuasa dan Tuhan Maha Perkasa dan juga memiliki sifat-sifat feminine (mother of God) seperti Tuhan Maha Pengasih, Penyayang dan Pemaaf. Tapi yang ditonjolkan dalam masyarakat adalah sifat-sifat maskulin Tuhan dan perempuan ditakut-takuti dengan sifat maskulin Tuhan. Bila tidak taat pada pelbagai aturan yang ditentukan oleh rezim patriarkhi maka Tuhan akan datang dengan kaki yang menginjak.[11]

Penolakan terhadap  mitos  tulang rusuk dalam cerita penciptaan perempuan dapat pula disimak dari beberapa intelektual Islam, seperti Murtadha Muthahhari, ulama besar dari Iran yang mengatakan bahwa Alquran dalam beberapa ayat dengan jelas sekali mengatakan bahwa kami ciptakan perempuan dari esensi yang sama dengan esensi laki-laki. Juga Alquran mengatakan dalam beberapa ayat bahwa Allah menciptakan pasanganmu dari jenismu sendiri.[12]

Kesimpulan

Penciptaan manusia merupakan rahasia Tuhan. Hal-hal metafisis tidak bisa diperdebatkan karena tidak seorangpun yang dapat mengetahui bagaimana Allah menciptakan manusia. Penjelasan tentang penciptaan manusia berada di luar kemampuan pemahaman manusia, karena berada dalam alam gaib. Yang jelas dalam konteks agama  Islam,  kesetaraan manusia, penghormatan pada martabatnya  diungkapkan dalam banyak teks-teks Alquran, seperti  Q.s. Al-Hujurat/49 : 13 yang berbunyi “ Wahai manusia  Kami ciptakan  kamu dari laki-laki dan perempuan  dan Kami jadikan  kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa  agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia  di antara kamu di sisi Allah  adalah yang paling  bertaqwa kepada Nya “. Demikian pula   Q.s  At-Taubah/ 9:7  yang berbunyi “ Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, laki-laki dan perempuan saling membantu  dalam kerja  mengajak kepada kebaikan  dan mencegah  dari kemungkaran” .

Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Alquran tidak membedakan  nilai dan  karakteristik  laki-laki dan perempuan. Demikain pula , pesan-pesan moral dan  spiritual ditujukan untuk laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan sama-sama makhluk Tuhan, saling melengkapi dan sempurna secara ontologis. Maka itu,   laki-laki dan perempuan dituntut untuk berkerjasama melakukan peran-peran sosial dan kebudayaan.

[1] Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2,terj. Abdul Ghofar E.M. (Jakarta: Asy-Syafi’i, 2008), hal. 290.

[2] Ibid hal. 290.

[3] Ibid loc.829

[4] Ibid, log. 514.

[5] Musdah Mulia,  Muslimah Sejati, hal.  111

[6] Amina Wadud, Qur’,an and Woman, hal. 21

[7] Amina Wadud, Qur’an and woman, hal. xi

[8] Prolog Musdah Mulia dalam Mencegah kematian ibu melahirkan,ed. Ira D. Aini, 2014 hal. xii

[9] Quraish Shihab  Membumikan Alquran,  hal.  420.

[10] Nawal El Saadawi, Perempuan Dalam Budaya Patriarkhi, (Terj. Zulhilmiyasri (Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 2001) hal. 207

[11] Nasaruddin Umar dalam Koran Rakyat Merdeka, 13 Februari 2013.

[12] Muthahhari Muthahari,  Perempuan dan Hak-Haknya Menurut Pandangan Islam  (Terj) Ilyas Hasan (Jakarta: Lentera , 2009)  hal.  213. Syaikh Muthahhari Murthada ulama besar dan penulis Islam kenamaan yang dihormati publik di Iran.   Bukunya yang berjudul Women and her rights in Islam (1980)  dan diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dari penerbit Lentera Jakarta.