Me Time

Ditengah pandemi covid 19, banyak kegiatan hidup dilakukan secara digital. Anak-anak sekolah daring.  Belanja secara online dan work from home (WFH). Ditengah pandemi ibu-ibu dirumah makin sibuk.   Anak belajar di rumah, harus ditemani dan dibantu. Suami work from home, lama -lama mengalami cabin fever, sehingga bersikap aneh aneh.  Kerja domestik  makin padat.  Perempuan terlibat dalam semua kegiatan  yang membuat  hidup  diselimuti berjuta emosi. Ibu  perlu me time. Get yourself a me time.

Me time belum begitu populer dalam masyarakat.  Me time artinya rehat sejenak baik fisik maupun mental. Jenuh dengan rutinitas, maka perlu rehat, Ya butuh me time.

Me time adalah waktu untuk sendiri. Dalam me time kita melakukan apa yang ingin dilakukan dan rehat dari pekerjaan rutinitas. Dalam me time, kita bisa menyendiri dan melakukan apa yang disenangi, tidak memikirkan hal-hal lain. Me time adalah meluangkan waktu sejenak untuk diri sendiri. Memberikan waktu sejenak untuk diri sendiri penting untuk kesehatan  fisik dan mental.

Banyak orang menyepelekan me time. Di tengah segala rutinitas dan kesibukan, me time acap kali menjadi suatu kemewahan bagi sebagian orang. Padahal, memberikan waktu sejenak untuk diri sendiri penting untuk kesehatan fisik dan mental.  Me time berarti  melakukan blocking time untuk diri sendiri, agar  tidak terjebak  dalam  rutinitas sehingga   membuat  lelah dan jenuh.

Selama ini, ada pandangan salah kaprah bahwa menghabiskan waktu untuk diri sendiri diasosiasikan dengan kesepian, kesedihan atau antisosial. Ada juga orang yang merasa bersalah karena meluangkan waktu sendirian, padahal dikelilingi orang-orang  terkasih.

 Sesungguhnya, banyak manfaat me time. Dengan me time, kita   memberikan kesempatan otak untuk beristirahat, menjernihkan pikiran, mengurangi stres, sekaligus merevitalisasi tubuh. Setelah me time  konsentrasi dan produktivitas bisa meningkat karena pikiran jadi lebih jernih. Dengan me time kita memiliki  kesempatan untuk berpikir lebih mendalam sehingga bisa lebih efektif untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan.

Me time  memberi dukungan pada mental spritual. Dalam me time kita bisa melakukan refleksi diri untuk  mengetahui apa yang benar-benar diinginkan diri sendiri. Dengan me time  kita lebih mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri merupakan kegiatan spritual, yaitu Inline dengan Tuhan. Mengenal diri berarti mengenal Tuhan. Dengan me time mental jadi stabil, sehingga kita bisa mengatur hidup dengan lebih baik.

 Me time memberi dukungan pada mental sosial. Setelah me time, orang jadi lebih menghargai hubungan dengan orang lain, sehingga kualitas hubungan dengan orang lain jadi meningkat.

Berbagai platform yang disediakan di internet, tidak hanya untuk media komunikasi publik untuk membangun hubungan sosial  tapi juga dapat dilihat sebagai  dialog diri yang disebut jurnaling. Mencatat hal-hal penting yang perlu diingat, itulah manfaat jurnaling.Jurnaling bisa dilihat sebagai  me time.

Kapan dilakukan me time ?. Me time dapat dilakukan setiap hari.Setelah menjalankan rutinitas, manfaatkan waktu lima menit untuk meditasi dengan bernapas panjang dan hanya menyadari napas. Tidak melakukan apa-apa, hanya duduk diam dan berhenti memikirkan sesuatu.

Sebulan sekali, jadwalkan me time setidaknya 30 menit atau satu jam untuk kegiatan favorit atau sesi memanjakan diri sendiri. Bisa jalan-jalan sendirian, merapikan rambut atau kuku ke salon, jalan ke museum, bersepeda, ngopi sendirian, atau membuat jurnal. Tidak perlu memberitahu teman atau keluarga mengenai detail me time yang sedang dikerjakan. Sampaikan saja  sedang meluangkan waktu.

Setidaknya ada 7 tanda, kita   butuh me time

  1. Takut ponsel berbunyi
  2.  Terlalu Khawatir
  3. Makan berlebihan
  4. Semua orang dirasa menganggu
  5. Lelah
  6. Sakit
  7. Frustasi tanpa alasan

Memiliki waktu sendiri adalah   penting. Orang perlu jeda  sejenak menjauh dari rutinitas.Sangat penting untuk memberikan diri  waktu dan ruang sendiri  agar sehat fisik dan mental.