Langkah-langkah metodologis hermeneutika feminisme

Langkah-langkah metodologis hermeneutika feminisme ini disusun berdasarkan berbagai pemikiran tokoh-tokoh pemikir Islam mengenai metodologi tafsir Alquran, terutama pemikiran DR. Amina Wadud dalam buku Qur’an and Women, Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective yang terbit tahun 1992. Hermeneutika feminisme untuk penafsiran Alquran diperlukan agar ajaran Alquran terkait perempuan bisa beradaptasi dengan kehidupan perempuan di era kontemporer ini, karena model hermeneutika ini mampu mendialogkan ayat-ayat gender dalam Alquran dengan kondisi kekinian, merasionalisasikan pesan-pesan Alquran terkait perempuan dan dapat diaplikasikan untuk memproduk tafsir yang berkeadilan gender.

Hermeneutika feminisme bagi Alquran meletakkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai sandaran utama moralitas Islam. Bersifat kritis, yaitu kritis terhadap metodologi penafsiran Alquran, kritis terhadap produk tafsir terkait perempuan serta kritis terhadap persepsi yang meminggirkan pengalaman perempuan dalam proses penafsiran. Bersifat holistik dan komprehensif dengan memperhatikan berbagai metode tafsir dari berbagai persoalan tentang kehidupan terkait perempuan, menggunakan kerangka pemikiran feminisme dan menerapkan prinsip tauhid.

Langkah-langkah metodologis hermeneutika feminisme adalah sebagai berikut:
Pertama berangkat dari pengalaman/pandangan perempuan sebagai langkah awal menghampiri sebuah teks. Pengalaman /pandangan perempuan  merupakan prior text (pra pemahaman) dalam pendekatan terhadap teks.

Kedua, menempatkan teori-teori feminisme sebagai kerangka pemikiran dalam proses penafsiran. Teori feminisme dapat dikatakan sebagai bingkai dari hermeneutika feminisme.

Ketiga, menerapkan metode kontekstualisasi historis, yaitu memperhatikan konteks waktu dan latar belakang turunnya ayat atau wahyu (asbab al-nuzul) untuk menangkap makna orisinil ayat-ayat alquran dan menemukan ajaran universal yang melandasi berbagai perintah normatif Alquran. Dengan metode ini dapat dibedakan ayat-ayat umum dan spesifik atau ayat-ayat partikular dan universal.

Keempat, penerapan metode intratekstual, yaitu pembacaan Alquran secara keseluruhan, tidak ayat per ayat dengan melacak bentuk-bentuk linguistik yang digunakan di seluruh ayat, membandingkan ayat yang satu dengan lainnya dalam tema yang sama. Makna ayat-ayat tersebut, ditarik dari keseluruhan teks dengan mengacu kepada prinsip Alquran yaitu keadilan untuk semua manusia.

Kelima, menerapkan prinsip tauhid, yaitu mengakui Keesaan Allah dan penghambaan diri hanya pada Allah dengan menaati segala perintahnya. Tafsir tauhid menegaskan ayat-ayat Alquran secara keseluruhan dan menjelaskan dinamika hal-hal universal dan partikular menurut Alquran. Tauhid membebaskan manusia dari sistem yang tidak adil dan menjadikan manusia setara. Esensi tauhid mengadvokasi hak asasi manusia perempuan dan mereformasi semua kebijakan yang mencegah kesetaraan gender.

Lihat gambar disini