KONSEP GENDER DAN TAFSIR ALQURAN

Tafsir Alquran dan gender adalah dua entitas yang masing-masing bisa berdiri sendiri tanpa saling menyapa. Masing-masing entitas tumbuh dan berkembang dalam dunianya sendiri, yang satu dipandang menghuni dunia sakral dan yang lainnya di dunia profan. Tapi, ketika dikaitkan dengan ide keadilan yang merupakan kebutuhan mutlak kehidupan manusia, maka tersingkap bahwa dalam tafsir Alquran terkandung hal-hal yang merugikan perempuan, melumpuhkan peran-peran sosial perempuan dan menjauhkan perempuan dari tujuan Islam sebagai rahmah bagi seluruh umat. Dalam tafsir Alquran terdapat persoalan gender, yaitu ketidakadilan gender.

Keadilan adalah prinsip kehidupan yang harus dipenuhi, karenanya segala bentuk ketidakadilan harus dikritisi. Dalam masyarakat Islam masih kuat anggapan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Kemanusiaan perempuan dipandang tidak utuh dan eksistensi perempuan hanya melengkapi dan melayani laki-laki. Anggapan ini mengakibatkan perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi. Inilah yang disebut dengan ketidakadilan gender.

1. Tafsir Alquran
Tafsir berasal dari kata Arab fassara yufasiru tafsir yang berarti menerangkan dan menjelaskan. Dikatakan tafsir, karena maknanya sebuah tafsiran atau interpretasi, menyingkap dan menampakan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata tafsir itu sendiri merupakan isim masdar (kata abstrak) dari fassara-yufassiru-tafsiran yang berarti pemahaman, penjelasan dan perincian. Tafsir bisa pula berarti al-Ibanah (menjelaskan) al-Kasyf (menyingkapkan) dan al-idhhar (menampakan) makna atau pengertian yang tersembunyi. Secara terminologi, tafsir didefinisikan dengan cara yang berbeda-beda. M. Quraish Shihab mendefinisikan tafsir sebagai penjelasan tentang maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Tafsir lahir dari upaya sungguh-sungguh dan berulang-ulang sang penafsir untuk ber- istinbath atau menemukan makna pada teks ayat-ayat Alquran serta menjelaskan apa yang musykil/samar dari ayat-ayat tersebut sesuai kemampuan dan kecenderungan sang penafsir. Sebuah tafsir dipengaruhi oleh faktor budaya, kecendrungan politik dari sang penafsir.

Menurut Harun Nasution, bahasa dan isi Alquran tidak mudah dipahami dan dimengerti baik oleh orang Arab sendiri. Para sahabat Nabi sendiri yang ikut mengalami turunnya wahyu, tidak selamanya sama pengertian mereka terhadap ayat-ayat Alquran. Perbedaan pengertian itu timbul karena perbedaan dalam pengetahuan bahasa Arab dan perbedaan kecerdasan. Oleh karena itu, diperlukan penafsiran ayat-ayat Alquran. Dengan demikian, tafsir adalah konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh cara berpikir dan sistem hidup masyarakat saat tafsir dikeluarkan.

Tafsir dibedakan atas tafsir klasik dan tafsir modern. pembedaan ini mengacu kepada periodisasi sejarah Islam. Harun Nasution membagi sejarah Islam atas tiga periode yaitu: periode klasik (650-1250), periode pertengahan (1250-1800) dan periode modern (1800-sekarang). Pada zaman klasik para ulama melaksanakan ajaran Alquran dengan memakai ijtihad dan penggunaaan akal dan mengembangkan ilmu pengetahuan (science) yang berkembang pada waktu itu. Pada zaman pertengahan, pelaksanaan ajaran Alquran tidak boleh menggunakan ijtihad dan akal. Ulama zaman pertengahan bertaklid pada ulama zaman klasik atau menerima saja apa yang dihasilkan ulama zaman klasik. Ketika ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat di Barat dan bersentuhan dengan dunia Islam pada abad ke 19 maka lahir pembaharuan pemikiran Islam yang dibawa diantaranya, oleh Al-Thahtawi, Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. Pembaharuan pemikiran Islam pada abad ke 19 ini dipandang sebagai permulaan zaman modern dalam dunia Islam.

Tafsir Alquran yang mengandung persoalan gender adalah tafsir klasik. Produk tafsir yang dihasilkan oleh ulama zaman klasik, disebut tafsir klasik, yaitu produk tafsir zaman antara abad 8 hingga abad 13. Ulama yang terkenal di bidang tafsir dalam zaman klasik ini antara lain, al-Thabari dengan karyanya Jami’ul bayan,fi tafsirin Qur’an, Jalaluddin as-Sayuti dengan karyanya ad- Durrul Mansur fit tafsiri bil ma’sur dan Ibnu Katsir dengan karyanya tafsir Ibnu Katsir.

Tafsir klasik  adalah tafsir yang menggunakan pendekatan atomistik dan tekstual dalam penafsian Alquran. Pendekatan ini tidak komprehensif, hubungan gagasan, struktur sintaksis, prinsip atau tema Alquran tidak ada metodologinya. Konteks sosial waktu ayat diturunkan tidak dijadikan pertimbangan. Ayat Alquran ditafsirkan berdasarkan perspektif laki-laki, sehingga persepsi laki-laki yang mempengaruhi posisi tafsir tentang perempuan. Alquran ditafsirkan sesuai dengan visi, perspektif, kehendak dan kebutuhan laki-laki, sedangkan pengalaman perempuan diabaikan. Karena itu, muncul beragam persoalan gender dalam tafsir klasik. Tafsir klasik melahirkan pandangan yang tidak akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan perempuan.

2. Konsep Gender
Gender didefinisikan sebagai seperangkat sikap, peran, fungsi dan tanggung jawab yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat kontruksi budaya atau pengaruh lingkungan masyarakat dimana manusia itu tumbuh dan dibesarkan. Dari definisi di atas, gender dipahami sebagai konsep sosial, yaitu konsep yang digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya bukan dari perbedaan jenis kelamin.

Gender dibedakan dengan pengertian seks. Gender bersifat sosial dan seks bersifat biologis, yaitu jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Jenis kelamin laki-laki ditandai dengan adanya penis dan perempuan dengan vagina. Seks adalah natural sedangkan gender adalah konstruksi sosial. Dalam disertasi ini gender dipahami sebagai peran dan tanggung jawab sosial laki-laki dan perempuan.

Gender merupakan pembahasan penting dalam teori feminisme. Munculnya gerakan feminisme karena adanya perbedaan gender yang melahirkan masalah, yaitu relasi gender yang tidak adil bahkan menimbulkan penindasan terhadap perempuan. Maka itu, dalam teori-teori feminisme, pusat perhatian tertuju pada masalah-masalah mendasar tentang perempuan dengan isu utama kesetaraan dan keadilan gender. Sedangkan dalam konteks Islam, menurut Yunahar Ilyas, pengertian feminisme adalah kesadaran akan ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut. Dalam disertasi ini feminisme dipahami sebagai kesadaran akan penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat. Dalam disertasi ini juga digunakan istilah feminis disamping feminisme. Yang dimaksud dengan feminis adalah orang-orang yang menyadari bahwa perempuan telah diperlakukan tidak adil. Sedangkan feminisme adalah sebuah pemahaman, studi atau teori.

Feminisme berkembang pesat dan telah dikaji dari berbagai perspektif termasuk perspektif Islam. Muncul tokoh-tokoh feminis yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender dalam konteks Islam. Adapun yang dimaksud dengan kesetaraan dan keadilan gender adalah  kesamaan derajat antara laki-laki dan perempuan baik eksistensi maupun hak-haknya.