Kesetaraan gender di Indonesia

Ketika mendengar isu kesetaraan gender atau  kesetaraan perempuan dan laki-laki, kita terkenang Bung Karno, Sang Proklamator.   Pada awal Kemerdekaan, ketika perempuan masih berada di pinggir peradaban dan ruang publik dimiliki laki-laki, Bapak Besar ini menitipkan sebuah  pesan mengenai kesetaraan gender di negara Indonesia merdeka. Bung Karno mengumpamakan Indonesia bagai sayap burung. Dua sayap itu harus diisi oleh perempuan dan laki-laki. Bung Karno percaya kesetaraan gender dalam  memikirkan hak bersama sebagai bangsa, akan mengantarkan Indonesia ke puncak yang tinggi.

Dalam rangka Hari Perempuan sedunia, 8 Maret 2021,  kita perlu bertanya : “ Apakah perempuan Indonesia di era digital ini telah menjadi   bagian dari sayap burung yang ikut menerbangkan Indonesia ?.Mari kita buka diskusi tentang kesetaraan gender di era di gital di Indonesia. 

Berbicara tentang kesetaraan gender berarti berbicara tentang manusia. Kesetaraan gender itu penting, tidak saja mematuhi kehendak Tuhan, juga kesetaraan gender penting untuk mewujudkan keharmonisan sosial dan persatuan. Perjuangan kesetaraan gender yang telah dimulai pada abad lalu masih belum selesai. Kesetaraan laki-laki dan perempuan belum seperti yang diharapkan.

Ketidakadilan gender salah satu persoalan sosial. Dalam masyarakat Indonesia masih kuat anggapan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Kemanusiaan perempuan dipandang tidak utuh dan eksistensi perempuan hanya sbg pelengkap. Anggapan ini mengakibatkan perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi dan ketidakadilan, baik dalam keluarga, di tempat kerja dan dalam interaksi sosial.

Apa itu  gender?

Istilah gender  diperkenalkan oleh seorang seksiolog John Money (1970). Dia membedakan istilah sex dan gender. Seks adalah pembagian jenis kelamin manusia (laki-laki dan perempuan) ditentukan secara biologis, seperti laki-laki memiliki penis dan memproduksi sperma sementara perempuan memiliki alat reproduksi yaitu rahim, saluran untuk melahirkan, memproduksi indung telur, memiliki vagina dan punya alat untuk menyusui. Alat-alat biologis, bersifat permanen, ketentuan  Tuhan   dan disebut kodrati.

Gender didefinisikan sebagai  seperangkat sikap, peran,fungsi dan tanggung jawab yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan yang dikontruksi oleh   budaya atau  lingkungan masyarakat  dimana manusia itu tumbuh.  Budaya patriarchi mendiskriminasi perempuan.  Laki-laki membentuk dunia dan sekaligus merepresentasikanya dari sudut pandang laki-laki, tanpa menyertakan sudut pandang perempuan dan  dikacaukan dengan kebenaran mutlak.

Perjuangan untuk kesetaraan  gender telah menjadi keniscayaan global dan secara perlahan dan pasti merambah ke berbagai lini kehidupan, bergulir menjadi wacana akademik di perguruan tinggi.

Sekalipun ide kesetaraan gender telah banyak disosialisasikan dan secara hukum sudah ada yang diatur, tapi belum banyak berpengaruh terhadap perilaku yang telah terpola dalam masyarakat. Hal ini dimungkinkan karena masih banyak sumber-sumber yang bernuansa bias gender.  Saat ini  terdapat 426 Peraturan Daerah (Perda) bernuansa bias gender.   Wacana penerbitan  Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender oleh DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) menimbulkan banyak polemik di kalangan masyarakat dan dicurigai dapat merusak sendi-sendi  agama.

Untuk membangun kesetaraan gender dimana seluruh warga masyarakat, laki-laki dan perempuan dapat memberikan  konstribusi yang konstruktif untuk kepentingan hidup bersama (Bonum Komune), maka bias gender  dalam berbagai pengaturan sosial harus dihilangkan. Bias gender  ada dalam religi,tradisi dan juga Perda.

Ketentuan jam malam bagi perempuan dan pengaturan pakaian perempuan adalah aturan bias gender.

Bias gender ada dalam penafsiran Ayat-ayat Alquran (ayat gender). Penafsiran ayat ayat gender melahirkan pandangan tidak akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan perempuan. Perempuan tidak diakui sebagai manusia utuh,

Tidak berhak mempresentasikan diri,

Dilarang menjadi pemimpin,

Dipojokkan sebagai makhluk domestik,

Harus taat suami dan harus rela dipoligami. Diposisikan sebagai objek hukum, khususnya hukum yang berkaitan dengan hukum keluarga seperti hukum perkawinan dan  pewarisan.

Penafsiran Alquran dikodifikasi menjadi hukum (fikih), sehingga perempuan dalam hukum Islam mengalami diskriminasi dan ketidakadilan. Dalam hukum yang diskriminatif itu, perempuan terbelenggu dalam dilemma: taat pada hukum berarti pembiaran terhadap pelanggengan ketidakadilan, tetapi meninggalkan hukum dapat dituduh  murtad dan dikafirkan.

Istilah gender sudah banyak dipublikasikan, tapi banyak yang belum memahami. Gender adalah konstruksi sosial yang membedakan peran laki-laki dan perempuan. Perempuan dilekatkan dengan pekerjaan domestik dan laki-laki di ruang publik.  Laki-laki dilihat berderajat lebih tinggi dari perempuan, Perempuan tidak setara dengan laki-laki. Inilah yang disebut dengan ketidaksetaraan gender.

 Memang sudah ada kebijakan kesetaraan gender dalam kehidupan bernegara, namun  dalam realitasnya, diskriminasi terhadap perempuan  di bidang politik dan pemerintahan, masih cukup kuat. Lebih dari dua puluh tahun reformasi, persoalan mendasar yang dihadapi perempuan, seperti angka kematian ibu,  perkawinan anak atau perkawinan dini, perdagangan manusia dan kesenjangan upah masih  saja berlangsung.   

Di bidang ekonomi, kesempatan untuk masuk ke social enterpreuner masih sulit bagi perempuan. Terutama perempuan di grass level, petani. Mereka sulit keluar dari perangkap kemiskinan.