Kekerasan verbal adalah KDRT

Ketika  Ani  menikah tiga  tahun  lalu,  suaminya seorang laki-laki    lucu, humoris  dan senang membuat semua orang tertawa. Segala sesuatu yang terjadi di antara  mereka  tampak hebat dan indah.  Mereka  sering jalan berdua.  Ngobrol santai yang  menghadirkan perasaan nyaman. Mereka tetap  menjadwalkan waktu khusus untuk kencan seperti pacaran dulu. Mereka saling menjaga perasaan masing-masing.

Namun, semua keadaan itu berbalik saat usia pernikahan  mereka menginjak  enam  bulan. Suami Ani  mulai sering  marah secara tiba-tiba. Sering  Ani dipanggilnya dengan sebutan yang menyakitkan, seperti    bodoh, jelek, dan tidak berguna.  Bila sedang marah Ani diancam akan dibunuh. Kalau Ani meninggalkan rumah, suaminya selalu mengeceknya, bertanya di mana Ani berada dan sedang bersama siapa, dan berapa banyak uang yang sudah  dhabiskan. Ani sering dituduh selingkuh. Suaminya berprasangka Ani ingin meninggalkannya untuk orang lain. Berkali-kali  Ani meyakinkan bahwa suaminya lah  satu-satunya lelaki yang ada bersamanya saat ini dan Ani  memutuskan kontak dengan semua teman-teman laki-lakinya.

Sering  Ani termenung dan menyadari betapa bodoh dirinya yang tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang dialaminya. Yang dia tahu, dia  mencintai suaminya  dan tak akan pernah meninggalkannya. Karena suaminya  tidak pernah memukul, Ani tidak pernah merasa bahwa apa yang  dilakukan terhadap dirinya  termasuk dalam kategori kekerasan.

Seperti Ani, banyak isteri  yang tidak memahami bahwa kekerasan dalam rumah tangga tak hanya berbentuk fisik, tapi juga berbentuk kekerasan verbal (ucapan) dan mental. Mereka tidak tahu bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan verbal dan mental.  Bila kekerasan fisik saja sering sulit meminta perlindungan hukum, apalagi kekerasan verbal dan mental, tentu  jauh lebih sulit.  Padahal luka yang ditinggalkan bisa lebih dalam. Pada kekerasan verbal, anggota tubuh memang tak rusak dari luar, namun, justru dari dalam, tekanan psikologis yang membuat orang mudah sakit secara fisik dan menguras energi positif dalam dirinya.

 Kasus di atas mengundang kita untuk membicarakan masalah kekerasan  verbal dalam rumah tangga. Masih banyak orang yang belum memahami bahwa sikap mengejek, mencaci maki dan menuduh selingkuh  termasuk dalam kategori kekerasan. Ya Kekerasan verbal.  Karena suami  tidak pernah memukul, isteri  tidak pernah merasa bahwa apa yang  dilakukan terhadap dirinya  termasuk dalam kategori kekerasan.

Menurut seorang peneliti, reaksi otak terhadap kekerasan verbal sama dengan reaksi otak terhadap kekerasan fisik. Ada benarnya juga syair lagu Meggy Z, “ lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”.  Kata “sakit hati” ternyata bukan metafora belaka.  

Isteri korban kekerasan verbal suami akan mengalami tekanan emosional dan kehilangan kepercayaan diri. Pada kekerasan fisik, luka memar akan dapat sembuh dengan sendirinya, tapi luka hati tak dapat sembuh dengan mudah. Butuh waktu panjang agar dapat bangkit dari tekanan emosional.  Pukulan  mental yang dijatuhkan bertubi-tubi, diejek, dihina dan dituduh selingkuh  akan membuat korban depresi dan putus asa.  Rasa depresi, putus asa dan  kesedihan berlarut-larut akan membuat orang mati secara pelan-pelan. Karena rasa deprasi itu   berdampak pada kinerja jantung dan respon otak dan mengundang datangnya berbagai penyakit. Maka tak heran jika korban kekerasan verbal akan mudah sakit.

Kekerasan verbal membuat korbannya gagal mencintai diri sendiri.  Seorang isteri  yang mengalami kekerasan verbal  tidak mencintai dirinya. Akibatnya, dia akan berhenti untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan menjaga kesehatan dan kecantikan diri sendiri. Selalu merasa  bersalah dan meyakini bahwa diriya adalah perempuan jelek, malas, tak becus, buruk, dan apa yang suami lakukan padanya adalah hukuman yang patut diterimanya.

Kekerasan verbal dalam rumah tangga sering kali tidak disadari dan sering perempuaan yang menjadi korbannya.   Cinta  indah di waktu pacaran, sering berubah menjadi petaka setelah menikah. Betapa sakitnya  dipanggil dengan sebutan yang menyakitkan, bodoh, jelek, dan tidak berguna. Dan lebih sakit lagi  dituduh selingkuh.

Kekerasan verbal adalah salah satu bentuk  Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sudah diterbitkan undang-undangnya agar KDRT dihapuskan. Semua kita wajib tahu dan KDRT  perlu diwaspadai !