Kegelisahan perempuan dalam tafsir al-Quran dan hadis

Perempuan gelisah karena banyak penafsiran hadis-hadis terkait perempuan yang telah menjadi fiqih merupakan tafsir bias gender. Kedudukan perempuan dipandang tidak sederajat dengan laki-laki. Atas nama agama, perempuan tidak diakui sebagai manusia utuh, tidak boleh mempresentasikan diri, tidak boleh jadi pemimpin dan harus rela dipoligami sampai dengan empat isteri.

Dewasa ini, posisi perempuan secara sosiologis mulai berubah karena para pemikir Islam kontemporer mulai meninjau secara kritis penafsiran klasik Alquran dan  hadis. Dalam studi Islam terdapat tiga konsep kajian dan penelitian  konvensional, yaitu kajian tafsir al-Quran, kajian tafsir  hadis dan kajian tafsir fiqih. Karena kajian kajian ini terus berkembang,  maka ilmu tafsir  menjadi satu disiplin yang mandiri dan dinamis dengan memanfaatkan perkembangan terbaru ilmu pengetahuan dan logika masyarakat. Muncul hermenutika sebagai metodologi penafsiran bagi al-Quran dan hadis. Ada sederetan  nama-nama yang menggunakan hermeneutika sebagai metode penafsiran  al-Quran dan hadis, seperti Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun dan lainnya. Feminisme Islam, seperti Amina Wadud,Musdah Mulia dan lainnya  juga ikut menggunakan hermeneutika sebagai metode penafsiran al-Quran dan hadis   untuk menemukan pandangan Islam terhadap perempuan.

Tokoh-tokoh hermeneutika yang disebutkan di atas, mendekonstruksi  struktur dan bangunan keilmuan ilmu-ilmu agama Islam dengan kaidah-kaidah keilmuan sosial yang ada. Mereka melakukan kritik  terhadap pemikiran Islam klasik. Tokoh-tokoh ini prihatin terhadap  ilmu-ilmu agama Islam, seperti fiqh,kalam, falsafat, tasawuf dan tafsir yang  tidak berubah sejak awal, baik dari segi bentuk, muatan maupun metodologinya. Sejak ilmu-ilmu itu disusun,  hingga zaman kontemporer ini  tidak ada perubahan-perubahan yang cukup berarti, baik  format isi maupun metodologi, padahal kehidupan manusia telah berubah demikian fantastisnya, baik dari segi kualitas maupun kuantitas dan dari segi intensitas maupun ekstensitasnya.

Ilmu pengetahuan  dan kultur harus  bersentuhan, kalau tidak akan  terjadi pensakralan pemikiran keagamaan di lingkungan umat. Pensakralan ini lebih menyulut emosi keagamaan, ketimbang pendewasaan cara berpikir.  Maka itu, patut disimak  saran Arkoun bahwa perkembangan mutakhir dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora tidak dapat dikesampingkan dalam memahami Alquran. Dia menekankan pentingnya semiotika, linguistik dan hermeneutika modern, sebagai perangkat metodologis untuk menemukan kaitan antara problem teologis dan antropologis dalam Alquran.

Menyimak pemikiran  feminisme Islam terlihat fokusnya pada  isu-isu jender dalam tafsir klasik. Mereka mengkritik pandangan keliru terhadap perempuan dalam tafsir klasik. Atas nama agama, perempuan dibatasi dan diperlakukan tidak adil,  tidak diakui sebagai manusia utuh, dilarang menjadi pemimpin, dipojokkan sebagai makhluk domestik,  harus menjadi istri yang taat suami dan harus rela bila suami berpoligami sampai dengan empat isteri. Pandangan tasir klasik telah menjadikan perempuan makhluk sekunder  lalu pada perempuan disandangkan nilai-nilai yang merugikan perempuan, seperti yang tergambar  dalam hukum talak, waris, saksi dan poligami.

Memahami secara mendalam, sesungguhnya pandangan keliru terhadap perempuan dalam tafsir klasik  dimungkinkan oleh  problem metodologis dalam penafsiran ayat-ayat Alquran dan  hadis.  Metode tafsir klasik yang  harfiah-tekstual telah menghasilkan tafsir bias jender yang  membatasi peran sosial dan individual perempuan, bahkan membenarkan kekerasan terhadap perempuan.  Meskipun telah terjadi perkembangan dalam metode penafsiran Alquran dan hadis yaitu penggunaan hermenutika, tetapi objek perhatian hermeneutika  lebih terkonsentrasi pada cultural struggle  (demokrasi, pluralisme, toleransi, kebebasan berekspresi),  sementara  kelompok yang terkena  marjinalisasi sosial,  seperti perempuan masih diabaikan. Untuk merubah nasib perempuan dan menghilangkan kegelisahan yang memagut perempuan ditawarkan hermeneutika feminisme sebagai metodologi penafsiran al-Quran dan hadis.