Kegagalan berkomunikasi kerusakan utama dalam keluarga

Ketika membaca sebuah postingan edukatif di platform sosial media facebook, nampak  kontennya berisi anjuran yang mudah dilakukan. Bunyinya sebagai berikut.

“Biasakan ngobrol santai sama anak. Pada waktu makan atau waktu-waktu senggang. Bisa ngobrol tentang sekolah, teman dan keinginan-keiginan anak. Bila anak terbiasa berkomunikasi dengan orang tuanya, anak mampu mengekpresikan pikirannya, menyampaikan masalah-masalah yang dihadapinya dan pesan yang disampaikan orang tua dapat dipahami anak”.

Anjuran  di atas,memberi inspirasi untuk mempercakapkan komunikasi dalam keluarga. Tidak dapat diingkari, tidak sedikit keluarga yang sulit berkomunikasi. Suami dan isteri sulit membangun komunikasi, apalagi orang tua dan anak. Kegagalan berkomunikasi  merupakan kerusakan utama  hubungan antar manusia. Sembilan  dari sepuluh permasalahan disebabkan oleh mis-komunikasi.

Penulis sering mendengar keluhan :

 “Berbincang-bincang dengan isteri,  sulit. Lebih dari lima menit ngomong perbantahan pun datang. Pikirannya    sering liar, melompat lompat tanpa peduli logika. Kata-katanya sering kasar menusuk perasaan. Kalau sudah begitu, kami-sama diam. Bila kucoba bicara lagi, dia diam saja. Sikapnya dingin. Mukanya masam. Dia menyibukkan diri dengan gedget”. 

Komunikasi dalam keluarga penting, baik dengan pasangan maupun komunikasi antara orang tua dan anak. Nilai-nilai yang dominan dianut anak adalah nilai yang diperolehnya dari rumah.Orang tua harus memberi teladan  sama anak bagaimana berkomunikasi yang layak. Pendidikan yang baik  adalah  memberi teladan.

Komunikasi orang tua dan anak  perlu terus dibina. Untuk membangun komunikasi yang baik, orang tua harus menciptakan bahasa kasih yang digunakan dalam keluarga.  Jangan memanggil anak dengan sebutan yang menyakitkan hatinya, seperti, si  rakus, pemalas, pengantuk dan sebagainya.     Orang tua harus senantiasa menyemaikan benih yang baik buat anak melalui komunikasi.

Mila remaja milenial (16 tahun), tetangga penulis, pernah mengeluh:

“Mamaku sering marah-marah padaku. Sering aku dipanggilnya dengan sebutan yang menyakitkan. Si gendutlah, pemalaslah, bodoh dan tak berguna. Mama sering berprasangka negatif. Lambat pulang sekolah, dituduh berkeliaran di luarsana. Padahal aku ikut dengan grup belajar bersama “. 

Komunikasi adalah mekanisme kekuasaan sehingga bahasa menjadi sangat penting. Penggunaan bahasa yang layak dalam komunikasi keluarga sangat penting. Anak harus dibiasakan berkomunikasi yang layak Kalau anak terbiasa berbahasa yang layak dalam komunikasi anak akan menjadi pribadi yang baik. Disisi lain, bahasa alat berpikir. Kemampuan berbahasa perlu dikembangkan. Anak harus dididik berbahasa logis dan etis.

Orag tua harus menolak gurauan yang bermuatan olok olok pada  orang lain. Seperti  mengata-ngatain orang lain,   mengejek bentuk tubuh seseorang, perangai  dan keyakinan orang lain. Apalagi mengenai keyakinan seseorang , terutama keyakinan spritual. Keyakinan spritual Itu wilayah pribadi, domain manusia dengan Tuhannya. Anak harus dididik untuk menghormati keyakinan orang lain. 

Membangun komunikasi dalam keluarga ternyata tidak mudah.  Tapi  jangan cepat menyerah. Bukan tidak ada keluarga yang sukses membangun komunikasi dalam keluarga dengan menggunakan  bahasa kasih dan saling pengertian. Coba kita dengar cerita Bu Atik, sahabat penulis.  Begini ceritanya.

“ Aku dan Benni suamiku  memiliki cara pandang yang berbeda pada tiap  masalah, tetapi aku dan dia  dapat berbagi makna dan impak kedewasaan. Aku lebih condong  melihat persoalan secara teoritis, sedangkan dia  lebih banyak dalam penerapan. Aku  menjelaskan doktrin (dassolen) dia lebih mengartikulasikan praktek (dassain). Aku  mengemukakan berbagai pandangan dan pendapat, dia bergaul dengan berbagai pandangan dan pendapat tersebut.

 Cara pandang yang berbeda inilah yang membuat kami sangat akrab sekali. Berkomunikasi  merupakan alat  utama  mempererat hubungan ini. Sekalipun sikap dasar manusia cenderung  mengemukakan  egoisme masing-masing, tetapi rasa kasih,  bertoleransi dan saling menghormati   menghasilkan hal hal  yang istimewa “.

Tiap keluarga memiliki bahasa kasih sendiri-sendiri. Bahasa kasih bukan bahasa pasar dan  bukan bahasa buku. Bahasa kasih memperat hubungan dalam keluarga. Dengan bahasa kasih dapat terbangun komunikasi yang baik.

Secara teori, komunikasi  berada dalam ruang dan waktu. Proses komunikasi dapat dianalogikan dengan filsafat Heraclitus   enam abad sebelum masehi. Heraclitus mengatakan bahwa semua itu mengalir dan tidak ada manusia melangkah  di sungai yang sama dua kali. Pada saat yang kedua, manusianya berbeda dan sungainya juga berbeda.

Dalam berkomunikasi apa yang pernah kita ucapkan, tersurat dalam ruang dan waktu. Jadi sangat penting menghindarkan komunikasi yang mengandung racun, apalagi dalam keluarga.

Komunikasi itu bersifat sistemik. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh hal hal internal. Setiap idividu adalah suatu sistem yang hidup. Organ dalam tubuh kita saling berhubungan bagai sebuah sistem. Bila ada kerusakan pada mata, maka kita akan merasa pusing  dan bila marah jantung kita akan berdebar debar.

Tidak dapat diingkari, banyak keluarga yang sulit berkomunikasi. Suami dan isteri, orang tua dan anak, apalagi anak remaja milenial  di zaman ini sulit membangun komunikasi. Kegagalan berkomunikasi  merupakan kerusakan utama  hubungan antar keluarga.