HERMENEUTIKA FEMINISME MENDIALOGKAN AYAT AYAT GENDER DALAM ALQURAN

HERMENEUTIKA FEMINISME MENDIALOGKAN AYAT AYAT GENDER DALAM ALQURAN

IMG_20151013_153441 (2)

Hermeneutika sesungguhnya merupakan topik tua, karena  pada  abad 19  hermeneutika telah digunakan untuk mengeluarkan maksud teks dan kitab suci. Saat itu hermeneutika merupakan sub-disiplin  dari teologi. Dalam perkembangan selanjutnya hermeneutika digunakan tidak hanya sebagai metode menafsirkan kitab suci, tapi berkembang sebagai metode penafsiran  teks dalam arti yang luas, seperti, tanda, simbol, karya seni dan lainnya. Hermeneutika dapat dibedakan dalam enam bentuk, yaitu (1) Teori eksegesis Bible (2) Metode filologi secara umum (3) Ilmu pemahaman linguistik (4) Fondasi metodologis Geisteswissenschaften (5) Fenomenologi eksistensial (6) sistem interpretasi  yang digunakan  untuk meraih makna dibalik simbol-simbol dan mitos. [1] Masing-masing bentuk hermeneutika di atas mempresentasikan sudut pandang mana hermeneutika mau dilihat. Tiap bentuk hermeneutika melahirkan suatu pandangan yang berbeda tapi melegitimasikan kisi-kisi tindakan interpretasi, khususnya  interpretasi teks.

Istilah hermeneutika dalam berbagai bentuk dapat dibaca di sejumlah literatur peninggalan masa Yunani Kuno, seperti Organon karya Aristoteles yang didalamnya terdapat risalah terkenal Peri hermeneias atau De interpretatione (tentang penafsiran). Hermeneutika juga  muncul dalam tulisan-tulisan Plato, dan pada karya-karya para penulis kuno, seperti Xenophon, Plutarch, Europides, Epicuros, Lucretius,dan Longinus.[2] Plato memilih sebutan hermeneutika dengan  techne hermeneias, yang artinya  seni membuat sesuatu yang tidak jelas menjadi jelas. Aristoteles menyebut peri hermeneutic  yang dimaksudnya sebagai logika penafsiran.

Dalam konteks kekinian terdapat tiga pemahaman tentang hermeneutika yaitu pertama, sebagai teknis praktis penafsiran. Pemahaman pada konteks ini lebih dekat pada exegese yaitu kegiatan untuk memberi pemahaman pada suatu teks  atau kegiatan untuk mengungkapkan makna suatu teks agar dapat dipahami orang lain. Kedua, hermeneutika sebagai filsafat penafsiran, yaitu hal yang berkaitan dengan pola bekerjanya pemahaman manusia dan bagaimana hasil pemahaman manusia itu. Ketiga hermeneutika sebagai metode penafsiran yang membicaraan teori tentang penafsiran, banyak berurusan dengan pelbagai aturan dan teori penafsiran yang dikenal dengan hermeneutika modern.

Hermeneutika sebagai metode penafsiran memberi dukungan metodologis pada studi ilmu pengetahuan sosial (Geisteswissenschaften). Hermeneutika dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu sosial, seperti  sejarah, hukum, kajian gender dan lainnya. Adalah Schleimacher ((1768-1834)  tokoh pertama yang memberikan tonggak kukuh bagi hermeneutika  dengan membangun hermeneutika sebagai suatu teori. Dia mengemukakan dua dimensi penafsiran: grammatical interpretation (interpretasi gramatika) dan psychological interpretation (interpretasi psikologi).  Menurut  Schleimacher dengan menggunakan unsur  kupasan bahasa dan psikologis, seseorang mampu membuat kejelasan asumsi-asumsi yang sesuai dengan originalitas ekspresi yang diproduksi dan kemudian bisa memahami sang penutur secara baik. Kerja Schleimacher merupakan langkah bagi Wilhelm Dilthey (1833- 1911), filsuf Jerman yang menggagas  pemisahan metode ilmu-ilmu alam dengan metode ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Dilthey menggagas penggunaaan hermeneutika sebagai metode bagi ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Dunia  ditertibkan oleh global idea sehingga hermeneutika mainstream mempengaruhi para intelektual Islam. Hermeneutika  digunakan dalam studi tentang Alquran dan tafsir. Hermeneutika sebagai metode penafsiran Alquran. pertamakali digunakan oleh Hassan Hanafi (1965) dalam disertasinya yang berjudul : Les metodes d’exegese: essay sur la science des fondements de la comprehension ‘ilm usul al-fiqh, untuk mengambil gelar doktor pada universitas Sarbone Perancis. Didorong oleh kesadaran bahwa realitas kekinian memerlukan alat bantu untuk menafsirkan Alquran dan  perlunya suatu standar ilmiah dalam penafsiran Alquran, para intelektual Islam kontemporer mengembangkan metode hermeneutika bagi penafsiran Alquran. Ketika hermeneutika cukup memberikan kontribusi signifikan dan membuka wacana baru dalam pembacaan teks suci,  maka metode ini dikembangkan dalam berbagai model, Muhammad Shahrur  yang menawarkan hermeneutika intertekstual, Nasr Hamid Abu Zayd,  menawarkan hermeneutika signifikansi dan Fazlur Rahman  mengemukakan hermeneutika double movement. Rahman  membawa pembaharuan di bidang tafsir dan menawarkan bentuk hermeneutika bagi Alquran yang melahirkan tafsir baru yang keluar dari mainstream studi tafsir untuk menyelaraskan tafsir dengan konteks kekinian. Rahman membedakan konteks historis dari ayat-ayat sebagai sentral makna dan membedakan  ayat-ayat partikular dan universal. Muhammad Shahrur menempatkan pemahaman kitab suci dalam kerangka fenomena historis. Dia melakukan koreksi terhadap kesalahan umat yang kurang memperhatikan karakterisitik dan fleksibilitas penafsiran ayat-ayat Alquran, sehingga membebani umat, karena tidak sesuai lagi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan konteks sosial abad 21.

Hermeneutika yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh intelektual Islam  kontemporer di atas telah mengubah pemahaman terhadap teks-teks Alquran. Pemahaman ini dipandang lebih membumi tidak hanya berkutat pada pemahaman masa klasik yang konteksnya telah berbeda dan terkesan anti pembaharuan (tajdid). Dengan demikian, hermeneutika menjadi metode penafsiran alternatif dalam studi tafsir Alquran dan  kehadiran hermeneutika dipandang sebagai rekonstruksi metodologis dalam penafsiran Alquran.

Hermeneutika Alquran yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh intelektual Islam  kontemporer tersebut di atas  mempengaruhi gerakan feminisme dalam penafsiran Alquran. Intelektual feminis Islam yang lahir dari oerkembangan historis dan politik memberi perhatian terhadap keilmuan Islam terutama mengenai tafsir Alquran. Para intelektual feminis Islam, seperti  Riffat Hassan, Azizah al- Hibri, Amina Wadud, Asma Barlas, Sadiyya Shaikh  dan Kecia Al melahirkan karya-karya mengenai tafsir Alquran berbasis feminis yang ditandai dengan masuknya isu-isu gender sebagai kategori analisis dalam proses penafsiran Alquran dengan menggunakan hermeneutika berspektif feminis yang diberi nama dengan hermeneutika feminisme. Bagaimana hermeneutika feminisme digunakan dalam penafsiran Alquran, inilah yang akan diperkenlakan dalam tulisan singkat ini.

Kerangka berpikir  hermeneutika feminisme  

  1. Prinsip

Munculnya hermeneutika feminisme bagi Alquran disebabkan dominannya sistem patriarki dalam penafsiran Alquran dan tidak masuknya isu gender  sebagai kategori analisis dalam proses penafsiran. Dominannya sistem patriarki dalam penafsiran Alquran, melahirkan  produk tafsir bersifat seksime, yaitu pemisahan peran perempuan dan laki-laki, dimana peran domestik untuk perempuan dan peran publik untuk laki-laki. Implikasi lebih jauh adalah  meminggirkan  perempuan dalam segala aspek kehidupan.  Atas dasar itu, maka prinsip hermeneutika feminisme adalah mengacu kepada kesetaraan dan keadilan gnder dan anti patrarki.

Hermeneutika feminismenya menggunakan paradigma tauhid. Untuk memperoleh penafsiran yang adil terhadap perempuan, kita harus kembali kepada inti ajaran Alquran yaitu tauhid sebagai kerangka paradigma penafsiran Alquran. Konsep tauhid mengakui keesaan Allah, keunikan-Nya dan tidak terbagi (indivisibility). Tauhid merupakan metode kunci dalam hermeneutika feminisme dan merupakan doktrin mengenai keesaan Tuhan yang tidak terbandingkan. Dengan paradigma tauhid akan terlihat secara jelas, perbedaan Alquran dengan penafsirannya.

  1. Aspek

Hermeneutika feminisme dipengaruhi oleh teori hermeneutika  Hans Georg Gadamer, yaitu  mempertimbangkan tiga aspek dalam menafsirkan suatu teks yaitu konteks teks ditulis, bagaimana komposisi tata bahasa teks dan bagaimana keseluruhan teks (pandangan dunia teks). Bagi  Gadamer tujuan penafsiran tidak untuk menemukan makna objektif melalui dialog antara subjek-objek yang ditafsirkan, tetapi bagaimana penafsir menghasilkan penafsiran baru karena penafsiran tidak terbebas dari subjektifitas penafsir.

  1. Corak

Hermeneutika feminise  bersifat holistik, yaitu  mempertimbangkan semua metode tafsir tentang berbagai persoalan kehidupan sosial, politik, budaya, moral dan agama dan perempuan serta memecahkan masalah secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan. Kategori penafsiran ini tergolong baru dan belum ada pembahasan yang substansial mengenai isu khusus perempuan dari sudut Alquran secara menyeluruh dan sesuai prinsip-prinsip utamanya.

  1. Perspektif

Hermeneutika feminisme metode penafsiran berdasarkan perspektif perempuan. Bila  Alquran ditafsirkan berdasarkan perspektif laki-laki, maka persepsi laki-lakilah yang mempengaruhi posisi tafsir  tentang perempuan dan melahirkan pandangan bahwa perempuan tidak sederajat dengan laki-laki. Karena itu perlu metode tafsir dengan perspektif perempuan. Penafsiran Alquran harus dibebaskan dari pandangan patriarki dengan memasukkan pengalaman perempuan dalam proses penafsiran.  Pengalaman perempuan merupakan prior text, sehingga harus menjadi variabel dalam proses penafsiran.   Untuk memahami pengalaman perempuan, perlu menggunakan kerangka teori feminisme. Pengalaman perempuan bersifat subjektif dan historis.

  1. Pemaknaan kontekstual

Penafsiran Aquran bersifat kontekstual. Pemaknaan tekstual dan pengabaian aspek kontekstual dalam penafsiran Alquran  dapat menimbulkan penafsiran distorsif. Hermeneutika feminisme merupakan metode penafsiran Alquran  yang  tidak menerapkan beberapa makna sekaligus pada satu ayat, tapi mengembangkan suatu kerangka berdasarkan pemikiran yang sistematis untuk mengkorelasikan ayat per ayat untuk menunjukkan dampak dari pertalian yang sesuai dengan Alquran. Semua ayat Alquran yang diturunkan sebagaimana adanya dalam waktu tertentu haruslah di ungkapkan menurut suasana waktu itu. Tetapi pesan Alquran tidak terbatas untuk waktu dan suasana waktu itu, sehingga ayat itu  dapat ditafsirkan dalam  konteks kekinian.

Dengan kerangka pikir seperti diuraikan di atas maka hermeneutika feminisme  dapat dijelaskan dalam 5  dimensi struktural yaitu pertama, pandangan dan pengalaman perempuan sebagai prior text. Langkah awal pendekatan terhadap sebuah teks dimulai dengan pra pemahaman. Kedua, teori-teori feminisme  merupakan bingkai bangunan hermeneutika dan ketiga paradigma tauhid sebagai paradigma berpikir. yaitu menegaskan kesatuan ayat-ayat Alquran secara keseluruhan. Esensi tauhid mengadvokasi hak asasi manusia perempuan dan  mereformasi semua kebijakan yang mencegah kesetaraan gender. Keempat  penerapan metode kontekstualisasi historis yaitu memperhatikan konteks waktu dan latar belakang turunnya  ayat atau wahyu (asbab al-nuzul) untuk menangkap makna ayat-ayat alquran dan menemukan ajaran universal Alquran yang melandasi berbagai perintah normatif Alquran. Kelima, penerapan metode intratekstual yaitu pembacaan Alquran secara keseluruhan, tidak ayat per ayat dengan melacak bentuk-bentuk linguistik yang digunakan di seluruh ayat, membandingkan ayat yang satu dengan lainnya dalam tema yang sama. Makna yang ditarik dari keseluruhan teks mengacu kepada prinsip Alquran yaitu keadilan untuk  semua manusia.

Hermeneutika feminisme bercorak moral dengan meletakkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai sandaran utama moralitas Islam. Hermeneutika feminisme bersifat kritis, yaitu kritis terhadap metodologi penafsiran Alquran, kritis terhadap produk tafsir yang merugikn perempuan serta kritis terhadap persepsi tentang perempuan yaitu meminggirkan pengalaman perempuan dalam proses penafsiran.

IMG_20151013_143512Penutup

Hermeneutika feminisme untuk penafsiran Alquran sangat diperlukan agar ajaran Alquran terkait perempuan bisa beradaptasi dengan kehidupan perempuan di era kontemporer. Hermeneutika feminisme mampu mendialogkan ayat-ayat gender dalam Alquran dengan kondisi kekinian,  merasionalisasikan pesan-pesan Alquran terkait perempuan dan dapat diaplikasikan pada ayat-ayat gender dalam Alquan untuk memproduk tafsir yang berkeadilan gender.

[1] Akhyar Yusuf Lubis, Methodologi Posmodernis ( Bogor : Akademia, 2004)  hal. 103

[2] Richard E. Palmer,  Hermeneutics: Interpretation in Schleimacher, Dilthey,Heidegger dan Gadamer    (Evanston: Northwestern University Press, 1969)  hal.12-13.