HERMENEUTIKA FEMINISME MEMPRODUK TAFSIR YANG RELEVAN DENGAN ADAB MASA KINI.

Ketimpangan dan  ketidakadilan  gender masih merupakan salah satu problem yang berat dalam kehidupan masyarakat di era millenial ini.  Dalam masyarakat muslim   masih pekat anggapan bahwa kedudukan perempuan dibawah laki-laki. Laki-laki lebih unggul dari perempuan. Perempuan dipandang tidak memiliki kemampuan dan kecakapan seperti laki-laki, dan dipandang lemah dan inferior, sehingga perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, tidak boleh menjadi hakim pengadilan dan tidak boleh menghuni ruang publik. Perempuan diposisikan di wilayah domestik dan laki-laki di wilayah sosial atau publik. Hal telah melahirkan relasi kuasa baik dalam kehidupan rumah tangga (suami -isteri) maupun dalam kehidupan publik.

Salah satu penyebab terpuruknya posisi perempuan dalam masyarakat muslim adalah penafsiran teks-teks keagamaan Islam yang dimuat dalam kitab-kitab fiqih klasik (kitab kuning).  Semua kitab fiqih menunjukkan bahwa kedudukan perempuan dibawah laki-laki. Isi kitab ini berisi wacana yang bias gender, sarat dengan pandangan-pandangan diskriminatif terhadap perempuan, membatasi gerak dan kebebasan perempuan. Ajaran-ajaran dalam kitab-kitab tersebut dipandang masyarakat sebagai doktrin keagamaan yang kaku. Sekalipun sudah ada kounter terhadap ketidakadilan gender dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dilakukan oleh Kyai Husein Muhammad dan cukup banyak ulama yang mengakui bahwa di mata Tuhan laki-laki dan perempuan adalah setara, tetapi memasuki persoalan-persoalan praktis dan operasional pandangan kesetaraan ini sulit sekali dimunculkan.

Menurut Kyai Husein Muhammad, pandangan agama-agama tidak terkecuali agama Islam  tentang perempuan telah memperkuat subordinasi perempuan. ” Saya  kaget dan bertanya bagaimana mungkin agama bisa menjustifikas ketidakadilan, sesuatu yang bertentangan dengan hakikat dan misi luhur diturunkannya agama kepada manusia ” kata Kyai Husein  dalam sebuah wawancara  ( Jurnal Perempuan, No,64,2009).

Zaman ini zaman disruption, terjadi pergeseran kosep-konsep kehidupan.  Ketika terjadi perubahan sosial di era ini,  banyak doktrin agama  tentang perempuan yang ada dalam kitab- kitab klasik   Islam sudah sulit dijalankan. Kesetiaan pada ajaran dalam kitab kitab tersebut sedikit demi sedikit mulai tereduksi . Praktek  keseharian perempuan tidak lagi mengamalkan ajaran-ajaran tersebut. Perempuan telah banyak aktif di ruang publik, bahkan pergi ke luar negeri menjadi tenaga kerja dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Menyadari bahwa Islam menjadi variabel utama membentuk kesadaran sosial dan sangat berpengaruh terhadap tradisi suatu masyarakat, maka  tidak ada pilihan lain, selain merekonstruksi kembali tafsir kitab-kitab klasik. Perlu tafsir agama yang sesuai dengan rasa kemanusiaan dan keadaban masa kini. Ketidakadilan terhadap perempuan  merupakan harga kemanusiaan yang tertimbun dalam formasi  penafsiran yang  usang. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman baru terhadap kitab-kitab keagamaan , agar ketidakadilan gender yang berlindung  dibalik legitimasi pesan-pesan agama tidak terus menggejala dalam  kehidupan masyarakat Islam.

Bias gender dalam  doktrin-doktrin agama  perlu dikritisi  dan dikaji ulang. Menurut Kyiai Husein Muhammad dalam bukunya  “Islam Agama Ramah Perempuan” (2004) bias gender dalam pemikiran Islam disebabkan oleh kekeliruan dalam menafsirkan teks-teks agama  karena metode yang digunakan adalah spekulatif, sepotong -sepotong dan tidak utuh. Disamping itu,  argumen yang digunakan sering  hadis yang lemah dan palsu.  Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru dalam menafsirkan teks-teks agama. Hermeneutika  feminisme merupakan suatu pendekatan baru yang sedang berkembang sebagai metode penafsiran teks berperspektif feminis (perempuan).  Pendekatan dengan hermenutika feminisme menghasilkan tafsir yang relevan dengan adab masa kini.

 Teks dan konteks  terbuka terhadap berbagai kemungkinan  perubahan. Teks-teks agama  bukan suatu yang tabu untuk dipertanyakan. Pola hidup masyarakat sangat  dipengaruhi oleh norma-norma keagamaan, terutama teks-teks keagamaan, maka pemahaman  masyarakat terhadap teks teks agama perlu dikaji ulang.  Bila  pemahaman ajaran agama masih konservatif, muncul pandangan yang diskriminatif dan subordinatif terhadap perempuan.  Reinterpretasi terhadap berbagai ajaran itu tak bisa ditolak lagi.  Ini soal keadilan. Keadilan adalah soal kemanusiaan. Untuk renterpretasi dimaksud Hermenutika feminisme dapat jadi rujukan.

Perlu disadari bahwa perubahan  zaman saat ini  merupakan perubahan yang  paling membingungkan sepanjang sejarah. hampir semua cara  hidup  dimasuki  oleh cara hidup digital . Teknologi digital telah mengubah cara berpikir dan  platform hidup.  Dunia dimana kita berada telah  dihinggapi oleh nilai-nilai teknologis. Berbagai arah hidup menjadi berubah. Suka tidak suka pendekatan baru dalam menafsirkan teks-teks agama tidak bisa ditunda lagi. Pendekatan dengan hermenutika feminisme menghasilkan tafsir yang relevan dengan adab masa kini.