HERMENEUTIKA FEMINISME MEMBEBASKAN PEREMPUAN DARI TAWANAN TEOLOGIS

Hermeneutika secara umum diartikan sebagai ilmu tentang interpretasi makna. Fungsi Hermeneutika adalah mencari pemahaman yang benar dari teks. Apa makna sesungguhnya yang dikehendaki oleh teks termasuk teks suci. Dewasa ini  banyak persoalan sosial umat Islam kontemporer yang tidak mampu dijelaskan oleh pembacaan-pembacaan konvensional terhadap teks Al-Qur’an, maka digunakan hermeneutika sebagai metode penafsiran Alquran yang pertama kali digunakan oleh Hassan Hanafi  dalam disertasinya yang berjudul : Les metodes d’exegese: essay sur la science des fondements de la comprehension ‘ilm usul al-fiqh, untuk mengambil gelar doktor pada universitas Sarbone Perancis.

Dirintis oleh Hassan Hanafi (1965),  Hermeneutika terus dikembangkan oleh  para intelektual Islam kontemporer karena didorong oleh kesadaran bahwa realitas kekinian memerlukan alat bantu untuk menafsirkan Alquran. Disamping itu,  dalam penafsiran Alquran diperlukan suatu standar ilmiah. Ketika hermeneutika cukup memberikan kontribusi signifikan dan membuka wacana baru dalam penafsiran Alquran, maka hermeneutika dikembangkan dalam berbagai perspektif termasuk perspektif feminisme, yang disebut dengan hermeneutika feminisme.

Hermeneutika feminisme bagi Alquran telah digunakan oleh tokoh-tokoh feminisme Islam  seperti Amina Wadud, Riffat Hassan, Asma Barlas, Kecia Ali dan lainnya. Hermeneutika feminisme adalah hermeneutika yang mengacu kepada ide kesetaraan dan keadilan gender, bercorak holistik, didasarkan pada pengalaman/pandangan perempuan, berbingkai teori feminisme dan menggunakan  langkah-langkah metode penafsiran Alquran yaitu kontekstualisasi sejarah, intertektualitas dan paradigma tauhid.  Tulisan ini mengemukakan bahwa model hermeneutika feminisme yang disebutkan di atas dapat membebaskan perempuan dari belenggu teologis.

Bias gender dalam penafsiran Alquran

Sejarah perempuan adalah sejarah penindasan. Salah satu penyebab terpuruknya posisi perempuan dalam masyarakat muslim adalah bias gender dalam penafsiran agama. Penafsiran yang keliru terhadap ayat-ayat  terkait perempuan (ayat-ayat gender)  menjadi salah satu sebab munculnya pandangan yang tidak akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan perempuan. Isu-isu gender dalam  tafsir klasik merugikan perempuan, seperti tafsir ayat penciptaan, kepemimpinan, ayat talak, poligami, waris, saksi dan lainnya. Dalam pandangan tafsir klasik, kedudukan perempuan dipandang  lebih rendah dari laki-laki. Dalam penafsiran ayat penciptaan, muncul mitos tulang rusuk yang tidak saja merendahkan perempuan, tapi juga  menimbulkan efek-efek negatif dalam relasi gender dalam berbagai bidang kehidupan. Kepada perempuan diberikan status inferior dan rendah, perempuan dipandang lemah, emosional, tidak cakap secara intelektual & spiritual dan eksistensi perempuan hanya untuk alat reproduksi atau penerus generasi.

Tafsir klasik mengenai ayat kepemimpinan, secara umum dipahami bahwa laki-laki adalah pemimpin alami. Laki-laki menjadi pemimpin atas perempuan, karena laki-laki diberikan keutamaan dalam hal akal dan kekuatan. Dalam penafsiran ayat talak, poligami, waris dan saksi jelas sangat merugikan perempuan. Talak merupakan hak preogratif laki-laki,  seorang isteri harus rela suaminya berpoligami hingga empat isteri, waris untuk anak perempuan separuh dari anak laki-laki dan nilai kesaksian perempuan setengah kesaksian laki-laki.

Dalam kitab-kitab klasik tersebut perempuan selalu digambarkan sebagai the second class (kelas dua) tidak sederajat dengan laki-laki dan selalu dipinggirkan. Kedudukan perempuan dipandang lebih rendah dari laki-laki dan kemanusiaan perempuan tidak utuh. Akibatnya perempuan mengalami berbagai bentuk diskriminasi dan ketidak adilan dalam  kehidupannya. Bias gender dalam tafsir klasik telah membuat perempuan menjadi subordinat dan tertindas. Penindasan tersebut dipandang wajar dan memiliki legalitas.  Bias gender dalam tafsir klasik merupakan bias-bias patriarkal yang mengakar dalam masyarakat pra Islam.  Bias-bias patriarkal tersebut  masuk ke dalam  Islam dan kemudian diyakini sebagai suatu keyakinan keberagamaan masyarakat Islam.

Perempuan dalam belenggu teologis

Tafsir bias gender, produk tafsir klasik   dikodifikasi menjadi  hukum Islam (fiqih) maka hukum  terkait perempuan (fiqih perempuan)  juga menjadi bias gender dan tidak adil terhadap perempuan. Dalam  hukum yang tidak adil itu,   perempuan   terbelenggu  dalam dilemma : bila taat pada hukum berarti membiarkan penindasan berlangsung terus  terhadap perempuan, tapi bila meninggalkan hukum maka mereka  akan dikafirkan. Perempuan menjadi tawanan teologis. Tafsir klasik telah membelenggu perempuan, maka itu perlu dibongkar untuk direinterpretasi.

Memahami  bahwa ide-ide feminisme ada di dalam tradisi Islam,  karenanya, ide-ide feminisme perlu dimasukan di dalam proses interpretasi. Atas dasar itu, para intelektual feminis Islam melakukan penelitian mengenai persoalan gender dalam tafsir Alquran dan membongkar ayat-ayat gender dalam Alquran untuk direinterpretasi. Islam menjadi variabel utama membentuk kesadaran sosial dan sangat berpengaruh terhadap tradisi suatu masyarakat. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, selain merekonstruksikan tafsir agama yang sesuai dengan rasa keadilan dan keadaban masa kini.

Ketidakadilan terhadap perempuan  merupakan harga kemanusiaan yang tertimbun dalam formasi teoritis penafsiran Alquran. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman baru atas  ayat-ayat Alquran agar ketidakadilan gender yang berlindung  dibalik legitimasi pesan-pesan agama tidak terus menggejala dalam  kehidupan masyarakat Islam. Kedudukan perempuan dalam Alquran perlu dikaji ulang , tentu dengan menggunakan  pendekatan baru yaitu  hermenutika feminisme.

Hermeneutika Feminisme sebagai pembebas

Dengan menggunakan metode hermenutika feminisme, tafsir klasik yang merugikan perempuan dapat dibongkar untuk direinterpretasi. Untuk   mempertegas kesetaraan gender dan menentang ketidakadilan berbasis gender yang  secara historis dialami perempuan dan secara legal terus berlanjut hingga sekarang ini maka  penafsiran ulang ayat-ayat gender dalam Alquran adalah suatu keniscayaan.

Hermeneutika feminisme adalah suatu upaya untuk menafsirkan teks atau ayat Alquran dengan mengacu kepada ide kesetaraan dan keadilan gender. Hermeneutika feminisme bagi Alquran adalah suatu keniscayaan dan  beberapa intelektual Islam telah membuktikannya, diantaranya Amina Wadud. Kontribusi penting hermeneutika feminisme adalah memunculkan tafsir feminis, sebuah tafsir yang membuka ruang untuk berbagai suara dapat berbunyi sehingga hal-hal yang tadinya dibisukan sekarang menjadi bersuara. Dengan demikian,  dapat diproduksi  tafsir Alquran yang berkeadilan gender .

Penutup

Untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam masyarakat Islam, maka bias gender dalam penafsiran Alquran harus dibongkar untuk direinterpretasi dengan pendekatan hermeneutika feminisme. Kecendrungan  kultur muslim yang menganggap perempuan  tidak sederajat dengan laki-laki merupakan suatu pelanggaran terhadap martabat perempuan sebagai manusia dan sebagai khalifah pengemban amanat Allah. Di samping itu, bila derajat perempuan rendah dari laki-laki, etos intelektual Islam tidak  dapat berkembang, karena perhatian terhadap suara perempuan tidak jelas dan pasti. Mari kita dorong dan support secara total penggunaaan hermeneutika feminisme dalam penafsiran Alquran, karena hermeneutika feminisme dapat membebaskan perempuan dari belenggu teologis yang diciptakan oleh tafsir bias gender.