DEKONSTRUKSI ANDROTEKS UNTUK REPRESENTASI FEMINIS

Dekontruksi dalam  bahasa  Perancis disebut ‘de’ constuire yang berarti membongkar mesin dan setelah dibongkar di pasang kembali. Di dalam kamus Bahasa Inggris, dekonstruksi didefinisikan sebagai suatu tindakan untuk mengubah konstruksi dari suatu benda. Di dalam kamus filsafat, dekonstruksi didefinisikan sebagai suatu strategi analisis yang dikaitkan dengan filsuf Perancis, Jacques Derrida, yang bertujuan untuk membuka pengandaian-pengandaian metafisis yang sebelumnya tidak dipertanyakan, serta membuka kontradiksi internal di dalam filsafat maupun teori-teori bahasa.

Ide dekonstruksi dikemukakan oleh  Jaqcues  Derrida dalam Seminar di Hopskin Amerika Serikat tahun 1966. Derrida  menyampaikan makalahnya yang berjudul Structure,Sign, and play in human Science  yang isinya merupakan kritik tajam terhadap filsafat Barat  moderen yang saat itu menguasai banyak pemikiran ilmuwan terutama di Perancis. Derrida  mengeritik hampir seluruh tradisi filsafat Barat yang menurutnya bersifat  logosentris  yaitu  yaitu sistem berpikir universal, terpusat,  mengakui hanya satu realitas, satu metodologi  dan satu kebenaran.  Cara berpikir logosentris adalah pemujaan terhadap logos, dan menggantungkan diri padanya  untuk mencari kebenaran, seperti  Idea pada Plato,  Rasio  pada  Rene Descartes,  Roh Absolut pada Hegel dan  Struktur pada  Ferdinand De Saussure. Derrida tidak hanya mengeritik tradisi filsafat Barat, tetapi membongkar teks-teks yang ada dan menyajikan teks-teks yang baru. Prosedur semacam inilah yang disebut Derrida sebagai dekonstruksi.

Dekonstruksi merupakan proyek filsafat yang berskala raksasa. Derrida menolak ilmu pengetahuan dan  filsafat yang universal dan esensial sebagaimana yang dikemukakan oleh para filusuf moderen. Derrida menolak bahasa sebagai pencerminan esensi realitas (bahasa alam). Derrida  menolak   metafisika  fisafat Barat yang disebutnya sebagai “ metafisika kehadiran”,  yaitu  memahami “ Ada “ sebagai kehadiran. Dalam berbagai aliran metafisika dalam filsafat Barat , “Ada “ selalu mengandaikan kehadiran, misalnya “ Ada”  hadir bagi Tuhan, bagi pemikiran ,  bagi subjek atau “Ada” dimengerti sebagai Roh  yang hadir bagi dirinya sendiri. Filsafat Barat yang disebutnya metafisika  berupaya mencari  kebenaran mutlak, kebenaran yang berada diluar fenomena fisik, padahal menurut Derrida  kebenaran   mutlak itu tidak ada, kebenaran itu beragam.

Dekonstruksi  berkembang dan  menjadi metode penting dalam penelitian sosial budaya kontemporer, karena dipandang memiliki kesesuian dengan masalah dan pandangan ontologis kajian social budaya kontemporer yang dipengaruhi oleh Critical theory, postrukturalisme  dan posmoderen.  Dekonstruksi dianggap tepat karena perubahan social budaya yang terjadi memungkinkan teori-teori lama yang dikembangkan pada era moderen tidak relevan lagi dengan kondisi kekinian.

Dekonstruksi mempengaruhi  banyak pemikir lintas disiplin ilmu dan digunakan untuk mendekontruksi teori-teori lama yang tidak lagi lagi relevan. Seperti teori pos kolonial dapat dikatakan sebagai hasil dekontruksi terhadap teori kolonial. Demikian pula pada teori feminisme merupakan hasil dekontruksi terhadap teks yang andosentris (androtex) dengan mengajukan prinsip kesetaraan dan emansipatoris.

Tokoh-tokoh epistemologi feminis berpandangan bahwa ilmu pengetahuan moderen didominasi oleh kepentingan dan perspektif laki-laki (androsentris),yang jelas mengabaikan sudut pandang perempuan. Gender tidak dianggap  sebagai variabel penting  dalam analisis masyarakat. Maka itu, terjadi ketimpangan gender dan penindasan terhadap perempuan. Kesadaran terhadap hal ini, muncul berbagai kajian feminisme yang meletakkan gender  sebagai veriabel penting.  Para epistemolog feminis gencar melakukan dekonstruksi atas ilmu pengetahuan moderen. Mereka  berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman, sudut pandang dan harapan kaum perempuan.

Saat ini dalam dunia akademis, penelitian sosial budaya yang menggunakan sudut pandang perempuan makin berkembang dan makin banyak diterima. Mulai disadari bahwa penelitian dengan menggunakan sudut pandang perempuan bukan saja penting karena dapat mengungkapkan dimensi-dimensi yang selama ini terabaikan dan tersembunyi, tapi penting untuk mengatasi persoalan kemanusiaan yang harus diatasi oleh ilmu pengetahuan.  Dekonstruksi  androteks  untuk representasi feminis. Gelombang keempat feminisme sedang mengembangkan sayap.