Hermeneutika Feminisme

Berkenalan dengan Hermeneutika Alquran

Hermeneutika Feminisme
Hermeneutics of Feminism in Islam

Hermeneutika (hermeneutics), berasal dari bahasa Yunani hermeneuine dan hermenia, artinya “menafsirkan” dan “penafsiran”. Kata latinnya ” hermeneutica”. Kata ini   diperkenalkan oleh seorang  teolog Strasborg bernama Johan Konrad Danhauer (1603-1666) dalam karyanya yang  berjudul: Hermeneutica sacra, Sive methodus Eksponendarums Sacrarum Litterarum. Menurut Danhauer, hermeneutika merupakan kebutuhan paling signifikan untuk segala ilmu pengetahuan yang legalitasnya didasarkan pada penafsiran sejumlah teks. Danhauer menguraikan pandangannya tentang hermeneutika berdasarkan risalah Peri Hermeneias  atau de interpretatione (tentang penafsiran) yang terdapat dalam buku Organon karya Aristoteles.  Hermeneutika juga muncul dalam karya Plato dan karya para penulis Yunani kuno lainnya.

Term Hermeneutika di zaman ini memiliki dua pengertian, yakni merupakan  seperangkat prinsip metodologis penafsiran dan  penelusuran filosofis dari kegiatan untuk memahami.

“Memahami” dan “Mengetahui” dua konsep  berbeda. “Mengetahui” (to know) mencari data, sedangkan “Memahami” (to understand) mencari makna. Data dapat diproleh melalui sesuatu, misalnya gen, neuron atau komputer, tapi makna hanya dapat dipahami oleh sesorang.  “Mengetahui” cukup menggunakan otak, tapi “Memahami” menggunakan hati. “Memahami” mengacu pada suatu kemampuan untuk menjangkau pribadi seseorang.   

Konsep  “Memahami” dihubungkan dengan hermeneutika, karena kegiatan inti hermeneutika adalah memahami, atau lebih khusus memahami teks. Jadi dapat dikatakan bahwa hermeneutika adalah ilmu untuk memahami  teks.

Teks adalah pelembagaan sebuah peristiwa wacana lisan dalam bentuk tulisan. Wacana merupakan medium bagi proses dialog antara individu  untuk memperkaya wawasan dan pemikiran dalam rangka mencari kebenaran yang tinggi. Teks merupakan salah satu agenda kajian hermeneutika, yaitu mengkaji wacana yang telah diekspresikan dan terlembaga dalam tulisan.

Seperti disebutkan di atas, bahwa hermeneutika telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Hermeneutika dalam pikiran Yunani Kuno lebih kepada “pikiran yang bermain” ketimbang “ ilmu yang ketat”. Pada zaman moderenlah, ketika semua hal dilakukan secara serius, hermeneutika menjadi suatu pengetahuan metodologis yang rumit, sehingga ada yang menolak dan ada yang mendukung.   

Namun, hermeneutika sebagai  ilmu penafsiran teks sangat dibutuhkan manusia, karena manusia  hidup dalam  dunia yang penuh tafsir. Menurut Derrida ( filsuf Posmoderen), segala sesuatu itu adalah teks yang tentu perlu ditafsirkan. Tulisan ini memperkenalkan hermeneutika sebagai ilmu penafsiran teks, khususnya hermeneutika Alquran  yang sampai saat ini masih kontroversial.

Pemikiran awal mengenai hermeneutika moderen  berasal dari Wilhem Christian Lugwig  Dilthy (1833 -1911). Filsuf Jerman  ini menggagas pemisahan metode ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial/ humaniora. Gagasan  Dilthy ini berasal dari pemikiran Schleimacher, tokoh pertama yang membangun teori penafsiran. Schleimacher  mengemukakan dua dimensi penafsiran,  interpretasi gramatika  dan psikologi. Dengan menggunakan gramatika bahasa  dan psikologis, makna teks dapat ditangkap seperti  makna aslinya.  Kerja  Schleimacher ini merupakah hal penting bagi Dilthy untuk menemukan metode bagi ilmu-ilmu sosial/humaniora. Dilthy   meletakkan tonggak penting dalam hermeneutika moderen yang membuka pintu lebar-lebar bagi perkembangan hermeneutika selanjutnya. Tercatat tiga aliran hermeneutika moderen yaitu , hermeneutika teoritis, hermeneutika filosofis dan hermeneutika kritis.

Hermeneutika teoritis memfokuskan perhatian pada masalah teori umum penafsiran sebagai sebuah metodologi untuk ilmu-ilmu sosial/humaniora dan menempatkan hermeneutika dalam ruang epistemologi, yaitu hermeneutika ditempatkan sebagai metode penafsiran terhadap pemikiran orang lain.  Aliran ini mengharapkan pemikiran orang lain dapat dipahami seobjektif mungkin. Hermeneutika diupayakan untuk menemukan fondasi yang dibutuhkan bagi penelitian ilmiah Maka itu, tujuan hermeneutika mencari makna objektif. Tokoh pendukung hermeneutika teoritis adalah  Wilhem Dilthy.

Hermeneutika teoritis mendapat kritik dari  hermeneutika  filosofis. Hermeneutika teoritis berupaya menemukan  fondasi dan kemungkinan objektif melalui proses penafsiran.  Hermeneutika filosofis  tidak bertujuan mencari makna objektif  tapi menggunakan hermeneutika secara eksplikasi dan diskripsi fenomena Dasein dalam temporalitas dan historikalitas. Hermeneutika filosofis tidak bertujuan mencari makna objektif dari teks yang ditafsirkan, tetapi bagaimana penafsir menghasilkan penafsiran baru yang praktis, relevan dan memperluas wawasan. Salah satu pendukung hermeneutika filosofis  adalah  Hans  George  Gadamer ( 1900- 2002).

Pemikiran Gadamer berakar dari gurunya Heidegger dengan konsep memahami teks sebagai cara berada. Heidegger memfokuskan pembahasan pada fondasi ontologis hermeneutika. Berangkat dari pra struktur memahami,  lalu menguak pentingnya pra andaian dalam memahami teks.

Berangkat dari konsep ontologi Heidegger, Gadamer membangun teori hermeneutika. Menurut Gadaner, teks dan penafsir berada dalam lingkungan budaya dan historis  berbeda. Perbedaan ini akan  membuat teks dan penafsir memiliki lebenswelt dan praduga yang berbeda, sehingga antara teks dan penafsir berada dalam tradisi yang berbeda.      

Dari fakta itu Gadamer kemudian mengambil kesimpulan bahwa manusia  tidak dapat keluar dari tradisi. Menurut Gadamer, bagaimanapun jauhnya hubungan kita dengan masa lampau tidak membebaskan diri kita dari tradisi. Kita selalu terkondisi dalam tradisi. Tradisi senantiasa menjadi bagian kita. Tradisi  adalah model diri kita sendiri yang menurut penilaian sejarah, kita dan tradisi terlihat sebagai sebuah ikatan yang  tulus.

Konsep penting dari hermeneutika Gadamer adalah permasalahan aplikasi. Aplikasi  merupakan implikasi dari konsep penyatuan horizon-horizon. Menurut Gadamer, hermeneutika terbagi ke dalam tiga konsep yaitu  pemahaman, eksplikasi dan aplikasi. Konsep memahami  bagi  Gadamer, berarti menyetujui.  Aplikasi bagi Gadamer  merupakan bagian inhern dari pemahaman. Bila bagi Schleiermacher dan Dilthey, aplikasi merupakan seni presentasi dan menempatkan aplikasi pada posisi tertentu, Gadamer   menempatkan aplikasi pada teks pada umumnya. Aplikasi merupakan bagian inhern dari pemahaman. Hal ini   disebutnya sebagai penyatuan horizon-horizon. Gadamer menempatkan hermeneutika sebagai fenomena universal.

Gadamer memberikan contoh aplikasi dalam teks teologi, hukum dan sastra. Dalam teologi, ia mencontohkan kasus khutbah. Awalnya

seorang pembawa khotbah memahami dan menafsirkannya dari perspektif teologis, kemudian dalam khutbahnya mengaplikasikan penafsiran itu sesuai pemikirannya. Pemikiran seseorang tidak  lahir dari ruang hampa, tetapi   dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, situasi sosial politik, lingkungan tempat tinggal, dan waktu yang terus  membayanginya.

Berkembangnya hermeneutika  dalam pemikiran Barat mengimbas ke dalam pemikiran Islam. Sekalipun hermeneutika merupakan metode  yang masih asing dalam wacana pemikiran  Islam, namun kesadaran perlunya standar ilmiah dalam kegiatan penafsiran Alquran dan ketidakpuasan terhadap tafsir klasik  yang cenderung a historis dan tidak kontekstual, maka para intelektual Islam termotivasi untuk membangun hermeneutika Alquran.

Hermeneutika Alquran   dirintis oleh  intelektual Islam, Hassan Hanafi, Fazlur Rahman dan Mohammad Arkoun. Ketiga tokoh ini dikenal sebagai pelopor studi hermeneutika Alquran dengan memperkenalkan hermeneutika sebagai sebuah metodolgi kritis untuk kajian Islam. Mereka dipandang sebagai pengusung pembaharuan dalam pemikiran Islam. Hassan Hanafi,lahir tahun 1928, berasal dari Mesir. Dia mengedepankan hermeneutika pembebasan untuk hermeneutika  Alquran. Fazlur Rahman, lahir tahun 1919, berasal dari Pakistan. Rahman memperkenalkan hermeneutika double movement.Mohammad Arkoun, lahir tahun 1926, berasal dari Aljazair . Arkoun  melakukan kajian kritis mengenai tradisi pemikiran Islam. Pemikiran Islam menurut Arkoun dikuasai oleh nalar dogmatis dan Arkoun melakukan kritik epistemologi terhadap bangunan ilmu pengetahuan Islam dan menawarkan metode hermeneutika  bagi penafsiran Alquran.

Hermeneutika Alquran terus berkembang. Dengan  munculnya kesadaran baru, kesadaran gender, maka  ide kesetaraan dan keadilan gender diusung ke dalam   tafsir Alquran. Para feminis Islam  melakukan  penafsiran Alquran berbasis feminis dan menawarkan Hermenutika Feminisme.

Hermeneutika Feminisme adalah adalah metode  penafsiran Alquran dengan pendekatan kesetaraan dan keadilan gender. Produk Hermeneutika Feminisme adalah tafsir Feminis, yaitu tafsir yang berkeadilan gender. Dengan  Hermeneutika Feminisme dapat pula dipahami bentuk-bentuk ketidak adilan   lainnya dalam masyarakat.