Awas! Kejahatan Seksual Online. Kontrol Anak Menggunakan Gawai

Sosial media  (sosmed) tidak hanya digunakan oleh orang dewasa, tapi juga digunakan remaja dan anak-anak. Melalui sosmed  anak  bisa berkomunikasi dengan  siapa saja. Belakangan ini, publik di Tanah Air dihebohkan dengan kasus child grooming, yaitu membangun hubungan emosional dengan  anak melalui sosmed untuk tujuan pelecehan seksual. Sekarang ada tren merayu anak  lewat medsos  guna melakukan pelanggaran seksual. Tulisan ini tidak membahas masalah child grooming, tapi  membangun obrolan   bagaimana menjaga anak dari kejahatan seksual online dan mengawasi anak dalam menggunakan gawai.

Jujur saja,  ide ini muncul, ketika seorang sahabat FB curhat tentang kejahatan seksual yang pernah dialaminya. Wow, ada hal penting untuk diperbincangkan!. Dulu orang mudah di ajak ngobrol walaupun di tempat-tempat umum. Kini orang di mana-mana merunduk melihat monitor gawainya. Mudah-mudahan wadah ini dapat menjadi wahana  pembicaraan  bermanfaat.

Cahaya  Bulan,  nama sahabat FB itu.  Mungkin waktu memberi nama,  orang tuanya masih percaya,  bulan berwajah cantik penuh kemilau. Setelah NASA mengirim Amstrong ke bulan, ternyata wajah bulan  bopeng dan cahaya kemilaunya pun dipantulkan dari matahari. Objek alam semesta yang dapat memancarkan cahaya sendiri hanyalah matahari dan   bintang. Bulan menceritakan  pengalamannya. Asyiik untuk disimak dan semoga dapat menginspirasi dan mendedahkan berbagai gagasan bermakna.  

“ Pengalamanku yang pahit waktu kecil, menjadikan aku seorang ibu yang selalu waspada terhadap siapapun yang mendekati gadisku “ demikian Bulan memulai kalimatnya.

Selanjutnya, Bulan mengatakan, dia  sangat tegas  dan sangat protektif terhadap anaknya. Dia tidak pernah mempercayakan anaknya pada siapa pun. Dulu, saat hidup kelurganya pas-pasan, dia  berhenti kerja, mengandalkan  penghasilan suami saja, demi menjaga anak dirumah.

Waktu  kecil hidup Bulan   pindah dari satu tangan ke tangan  lain. Orang tuanya divorce. Saat itu, umurnya baru  sepuluh tahun. Saat ikut ibunya, bapak tirinya  jahat. Dia sering mendapat pelecehan seksual, baik secara verbal maupun hasrat berkobar untuk mencabulinya.   Ketika dia mengadu sama ibunya, malah kena marah, ibunya membela ayah tirinya. Saat  tinggal di rumah  budenya,  suami budenya  juga begitu. Tiba- tiba masuk kamar dan  berbuat yang tidak senonoh padanya, pelecehan seksual.  Saat Bulan ikut bapaknya, dia juga  menderita. Saudara tirinya  laki-laki, masih remaja, juga sama binalnya dengan laki-laki dewasa itu (ayah tiri dan suami bu de). Dia  sering diolok-olok  dan dipegang-pegang  bagian tubuhnya  yang tidak boleh dipegang orang lain.  

Bulan sering merenung. Kenapa perempuan mudah dijahilin. Kenapa laki-laki ingin saja berbuat jahat  dan  melecehkan secara seksual. Dia selalu  berdoa, derita ini cepat berlalu. Rupanya Allah mendengar doanya.  Belum cukup umurnya 20 tahun, dia mendapat suami yang baik hati. Bulan melupakan masa lalunya. Sekarang fokusnya menjaga dan  melindungi  gadis kecilnya  Santi yang  sudah masuk  Sekolah Dasar. Bulan mempersiapkan diri anaknya dengan  pendidikan bela diri, agar bisa melindungi diri bila  sendiri. Dia berharap anaknya menjadi gadis pemberani, tidak mudah diancam dan dicabuli.

Cerita  Bulan di atas,  menyadarkan kita bahwa kejahatan seksual telah terjadi sejak lama, tapi sulit diberantas.  Dulu pelaku kejahatan seksual biasanya keluarga dekat, seperti teman dekat, kekasih, saudara, ayah (kandung atau tiri), guru, pemuka agama, atasan dan sebagainya. Belakangan ini   kejahatan seksual  bisa dilakukan    siapa saja secara online.  Ada  tren merayu anak dan remaja  lewat medsos. Karena itu perlu menjaga anak dari kejahatan seksual online dan mengawasi anak dalam menggunakan gawai.

Medsos adalah saluran  pergaulan sosial secara online melalui jaringan internet. Pengguna medsos  bisa melakukan komunikasi atau interaksi, berkirim pesan, baik pesan teks, gambar, audio hingga video. Melalui medsos orang bisa  saling sharing dan membangun networking. Contoh medsos yang paling umum digunakan adalah facebook, twitter , blog, wiki, instagram, line dan lainnya.

Hadirnya medsos  ternyata memberi pengaruh signifikan terhadap perilaku masyarakat. Medsos digunakan untuk melakukan kejahatan seksual pada anak.  Cukup banyak berita dan  kasus-kasus kejahatan  seksual online. Pemanfaatan anak dan remaja  untuk tujuan seksual telah banyak ditemukan oleh penegak hukum. Kejahatan ini  dijadikan sebagai ladang bisnis.

Kejahatan  seksual pada anak adalah suatu bentuk penyiksaan pada anak oleh orang dewasa atau remaja yang lebih tua dengan  menggunakan anak sebagai rangsangan seksualnya. Ada berbagai bentuknya, seperti meminta anak melakukan aktivitas seksual, memberi paparan tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi, kontak fisik dengan alat kelamin anak dan menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.  Telah ditemukan sejumlah forum online yang mengeksploitasi anak-anak dan menyebarkan  gambar dan vidio yang kontennya pelanggaran seksual.

Kegandrungan  anak  dengan gawai telah menjadi kenyataan yang tidak bisa diingkari.  Anak dan  remaja tidak pernah lepas dari gawainya. Duduk merunduk berjam-jam  membuka berbagai aplikasi obrolan di sosmed. Tidak adanya batasan konten di sosmed menyebabkan anak mengkonsumsi konten yang bukan porsinya dan  berkomunikasi dengan siapa saja.  

Untuk  menjaga anak dari kejahatan seksual online, orang tua perlu mengawasi anak dalam menggunakan gawai. Orang tua zaman now perlu memiliki kemahiran teknologi internet. Orang tua dapat menjadi teman di akun jejaring sosial anak. Dengan demikian, anak akan menyadari bahwa  apa saja yang  diposting dalam akunnya  di awasi  orang tuanya.

Menggunakan gawai dalam kehidupan sehari-hari suatu keniscayaan. Dewasa ini dan  ke depan teknologi digital ini menjadi nafas kehidupan manusia. Berbagai aktivitas sehari-hari,  orang menggunakan gawai. Mencegah anak mengakses teknologi  ini membuat anak buta peradaban. Yang penting orang tua harus mengontrol anak menggunakan gawai. Perlu dibuat   kesepakatan disiplin bergawai. Disiplin yang perlu diterapkan antara lain, mengecek handphone anak, membatasi durasi penggunaan handphone (setelah dua jam harus berhenti), mencegah anak mabuk gadget, memantau kegiatan anak, memiliki nomor handphone teman-temannya.

Selain itu, dalam  era digital ini  kita hidup dalam dua dunia ( maya dan nyata). Orang tua perlu mengajar anak berani. Anak harus berani melawan bila kekerasan mengancam dirinya. Anak harus berani berbicara apa yang terjadi pada dirinya jika mengalami perbuatan yang tidak  senonoh. Orang tua perlu membangun kebiasaan berkomunikasi dengan anak sejak dini tentang kejahatan seksual. Selama ini, kekerasan seksual terjadi berulang-ulang karena korban enggan bicara. Satu hal yang penting lagi, anak-anak sejak dini harus diajarkan mana bagian tubuh yang tidak boleh dipegang  orang lain. Juga anak diajarkan cara-cara melindungi area tubuh pribadinya. Disini terlihat  pentingnya pendidikan seksual untuk  anak.

Kejahatan seksual merusak fisik dan mental anak. Mulai dari manipulasi organ seksual hingga perkosaan dapat melukai organ reproduksi dan menimbulkan  berbagai  penyakit,  kehamilan bahkan aborsi. Kejahatan seksual melahirkan problema mental bagi korban, berupa depresi atau kecemasan yang berlangsung lama. Sindrom stress pasca trauma membuat anak  mengisolasi diri dari lingkungannya bahkan bisa bunuh diri.

 Kejahatan seksual telah berlangsung lama dan susah menghentikannya. Kini medsos digunakan untuk melakukan kejahatan  seksual online. Untuk  menjaga anak dari kejahatan seksual online, orang tua perlu mengawasi anak dalam menggunakan gawai,  mengajar anak berani  melawan bila kekerasan  mengancam dirinya. Selain itu, perlu membangun kebiasaan berkomunikasi dengan anak sejak dini dan anak  perlu diberitahu  mana bagian tubuh yang tidak boleh dipegang  orang lain. Anak perlu diajarkan cara-cara melindungi area tubuh pribadinya. Pendidikan seksual menjadi penting!