Apa itu hermeneutika Feminisme ?

Secara umum hermeneutika dipahami sebagai teori penafsiran atau interpretasi, khususnya prinsip-prinsip penafsiran tekstual. Dalam ilmu filsafat, hermeneutika dipahami sebagai metode filsafat yang berada dibawah payung epistemologi. Metode adalah cara atau jalan yang digunakan untuk memperoleh kebenaran dan pencerahan. Ada berbagai metode dalam filsafat, di antaranya metode kritis (Sokrates, Plato), metode intuitif (Plotinus, Hendri Bergson), metode transendental (I.Kant), metode dialektis (Hegel), metode fenomenologi (Husserl) dan metode analisis bahasa ( Wittgenstein). Dalam perkembangan terakhir muncul hermeneutika sebagai metode studi  ilmu sosial budaya.

Filsafat memerlukan metode hermeneutika, karena filsafat membutuhkan metode untuk menginterpretasikan pengalaman manusia. Selama tiga dasawarsa ini bidang metodologi telah menjadi pokok pembicaraan dan perdebatan dalam filsafat. Salah satu perdebatan metodologi adalah munculnya pendekatan pospositivisme dalam filsafat ilmu pengetahuan, karena pendekatan positivistik dianggap tidak sesuai bila diterapkan terhadap studi ilmu pengetahuan sosial budaya. Dengan munculnya perdebatan ini, maka berkembang hermeneutika sebagai metode studi ilmu sosial budaya. Tercatat beberapa tokoh yang berjasa dalam mengembangkan hermeneutika sebagai metode studi ilmu sosial budaya seperti Friederich Schleiermacher, Wilhem Dilthey, Martin Heidegger, Hans Georg Gadamer dan lainnya. Dalam perkembangannya, hermeneutika digunakan dalam studi feminisme. Terlihat sisi pentingnya  hermenutika sebagai metode  untuk menafsirkan teks-teks agar menuju pada penafsiran yang berkeadilan gender. Para pemikir feminis terinspirasi untuk menggunakan hermeneutika sebagai metode dalam studi  feminis yang disebut dengan hermeneutika feminisme.

Berkembangnya hermeneutika sebagai metode studi ilmu pengetahuan, memberi dukungan metodologis terhadap studi feminis. Ketika studi feminis diterima sebagai studi baru di dunia akademis, hal utama yang dipersoalkan adalah metodologi dari kajian ini, terutama dalam menjelaskan konsep perbedaan gender. Konsep perbedaan gender ini penting sebagai dasar untuk menjelaskan perbedaan perilaku, pengalaman dan harapan antara laki-laki dan perempuan. Dengan pendekatan hermeneutika  feminisme dapat dijelaskan konsep perbedaan gender yang didasarkan pada pandangan anti esensialisme. Konsep dan konstruksi terhadap perempuan dan laki-laki bukan sesuatu yang telah jadi dan selesai, tapi dikonstruksi secara sosial historis. Karena bentukan sosial selama ini bersifat patriarkis, sehingga melahirkan pandangan yang merugikan perempuan, maka kaum feminis mengajukan konstruksi konsep-konsep baru yang bersifat feminis. Konstruksi konsep-konsep baru ini dilakukan dengan pendekatan hermeneutika feminisme.

Sejak tahun 1990, pemikir-pemikir feminis Barat seperti Nancy Fraser dan Linda Nicholson melakukan rekonstruksi teori feminisme, dari teori yang bersifat universalitas dan esensialis ke arah pemikiran posmodern yang menolak universalitas dan esensialisme dalam teori ilmu pengetahuan. Ketika berkembang pemikiran posmodern dan merembes ke berbagai bidang ilmu pengetahuan, pemikiran feminisme dipandang sebagai contoh pemikiran posmodern. Dengan perspektif posmodern, Fraser dan Nicholson memahami bahwa penyebab ketidakadilan terhadap perempuan pada setiap kultur berbeda-beda, sehingga tidak dapat dijelaskan secara universal, tapi harus dipahami berdasarkan kondisi sosial historisnya. Memahami teks dalam konteks ini, melandasi bangunan hermeneutika feminisme sebagai metode dalam studi feminis.

Hermeneutika feminisme menolak grand social theory dan fokus terhadap konsep perbedaan (pluralitas) serta menekankan dimensi perbedaan interpretasi. Inti dari hermeneutika feminisme, menurut Fraser dan Nicholson, adalah percakapan hermeneutika yang tidak dibatasi oleh relasi kekuasaan atau ideologi, tapi bersifat inklusif di mana semua suara dapat masuk dalam proses interpretasi, sehingga dapat saling memahami.  Jika bentuk-bentuk pengetahuan dipengaruhi kekuasaan, maka pengetahuan sosial dari perspektif feminisme tidak bisa berkembang, maka untuk mendukung konsep perbedaan perempuan dan gender serta emansipasi sosial politik yang menjadi perjuangan feminisme, kemunculan hermeneutika feminisme merupakan langkah strategis.

Menyadari bahwa ada bias gender dan ketidakadilan baik dalam teori-teori ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan praxis, maka kalangan intelektual feminis Barat berupaya  menstransformasi teori politik  dan mengadakan perubahan. Pemikiran hermeneutika feminisme dalam pemikiran feminis Barat ini cenderung berbentuk politik sehingga diberi nama hermeneutika teori politik (hermeneutic political theory). Hermeneutika teori politik atau hermeneutika politik  adalah pemikiran kritis terhadap karya-karya yang bertema sosial politik, seperti karya Micahel Walzer (sosial demokrasi), karya Alasdair MacIntyre (New Aristotelian) dan karya John Rawls (teori keadilan), yang semuanya masih bermuatan metanarratif. Feminisme posmodern menolak filsafat metanarratif dan memposisikan moral sosial dan tradisi politik sebagai teks yang perlu diinterpretasikan. Hal ini didasari pada asumsi bahwa manusia merupakan bagian dari perkembangan historis, budaya moral dan intelektual (yang disebut oleh Bernard William sebagai thick vocabulary )  yang menjustifikasi praktek sosial dan norma- norma kehidupan.

Linda Nicholson menggunakan pendekatan hermeneutika feminisme terhadap isu keadilan yang dikembangkan John Rawls. Dia menolak penjelasan abstrak tentang keadilan dalam pemikiran Rawls. Demikian pula, Susan Miller Okin mengeritik Rawls yang tidak mengikutkan diskusi gender dalam pemikiran mengenai keadilan. Okin juga mengeritik pemikiran Mac Intyre yang tidak kritis terhadap tradisi pemikiran para filsuf terdahulu dan Okin mengkounter pemikiran yang berbasis tradisi filsafat aristotelian. Hermeneutika feminisme dalam pemikiran Nicholson dan Okin (feminisme posmoderen)   tidak hanya mengakui cara pandang posmodern tentang masalah perbedaan dan penghargaan terhadap pluralisme (keragaman),  tapi juga memberikan argumentasi terhadap pentingnya berbagai kritik sosial dan pemikiran politik.

Hal penting lainnya dalam pendekatan hermeneutika feminisme adalah membuka diskusi terhadap interpretasi tradisi. Perlu keberanian untuk membuka diskusi mengenai tradisi. Tujuannya adalah untuk mengembangkan diri dan mengembangkan tradisi itu sendiri lewat perbedaan yang ada. Kita dapat belajar dari keberagaman, sehingga tidak perlu mendekonstruksi berbagai pandangan tradisi. Kita perlu mengenali dimensi sosial dan historis dari pandangan-pandangan tradisi tersebut, sehingga dapat mengartikulasikan teori-teori feminisme. Hermeneutika feminisme tidak menyamakan semua bentuk pemahaman dan mengakui perbedaan perspektif serta berusaha mengurangi tekanan dan pandangan eksklusif dari perbedaan interpretasi.

Pertanyaan lain yang mengemuka dalam hermeneutika feminisme adalah bagaimana suara lian (otherness) dapat eksis? Cara berada lian cenderung dipinggirkan dalam wacana mainstream sehingga mengakibatkan ketidakadilan. Otherness di dalam pembahasan feminisme artinya bukan cara memandang perempuan yang telah di konstruksi secara sosial oleh laki-laki (sebagai norma umum, humanitas) atau  perempuan adalah “yang lain” dan subordinasi dari laki-laki (lihat Simone de Beauvoir). Konsep otherness ini telah melahirkan ketidakadilan karena telah membedakan eksistensi perempuan dari laki-laki dengan cara yang merendahkan. Siapakah yang memutuskan untuk membedakan status perempuan? Apa kepentingannya? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang penting di dalam hermeneutika feminisme.

Edward Said dalam tulisannya Orientalism (1978) membongkar kekuasaan dan kepentingan Barat dalam memproduksi pengetahuan Timur sebagai yang lian dari Barat. Said mempertanyakan kekuasaan dan kepentingan Barat dalam merepresentasikan Timur. Said menghubungkan persoalan etika, politik dengan pengalaman hidup manusia. Hal yang sama dilakukan oleh para feminis.  Sesuai dengan pemikiran Said, para feminis menaruh perhatian pada bagaimana kekuasaan memainkan peranan yang penting dan  bagaimana teks diproduksi. Proses produksi teks  menjadi sorotan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hermeneutika feminisme adalah pembacaan teks dari perspektif feminis dengan corak anti esensialisme dan menolak universalitas dalam teori ilmu pengetahuan. Hermeneutika feminisme cenderung berbentuk politik (Hermeneutic Political Theory) dan percakapan hermeneutika (Hermeneutika Diskusi) yang tidak dibatasi oleh relasi kekuasaan atau ideologi, tapi bersifat inklusif di mana semua suara dapat masuk dalam proses interpretasi, sehingga dapat saling memahami. Variabel penting dalam hermeneutika feminisme adalah konsep perbedaan gender dan konsep otherness dan tujuannya adalah mereformasi teori politik dan meredefenisi konsep keadilan.