Aliran-aliran pemikiran Feminisme

Feminisme diawali dengan suatu pergerakan sosial yang muncul di dunia Barat pada tahun 1800-an dengan tuntutan kesamaan hak dan keadilan bagi perempuan. Pergerakan ini diilhami oleh pemikiran Mary Wollstenocraft dalam bukunya The vindication Rights of Woman tahun 1975 yang menuding bahwa pembodohan terhadap perempuan disebabkan oleh tradisi dan kebiasaan masyarakat yang membuat perempuan menjadi subordinasi laki-laki. Pergerakan perempuan yang dimotori oleh sekelompok perempuan di dunia Barat ini kemudian disambut secara global. Pergerakan perempuan merupakan pergerakan sosial yang paling lama bertahan dan terus berkembang sampai kini, merambah ke berbagai lini kehidupan, bersifat transnasional dan bergulir menjadi wacana akademik di perguruan tinggi. Ketika wacana-wacana feminisme masuk ke ruang akademis dan menjadi kajian ilmiah, muncul berbagai teori feminisme.

Feminisme adalah suatu gejala yang mendasarkan suatu pemahaman pada kepedulian terhadap pemberdayaan dan posisi perempuan. Gejala ini disertai pula dengan usaha keras untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Bagaimana terjadinya ketidakadilan terhadap perempuan dan bagaimana gerakan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender telah mengembangkan pemikiran feminisme.  Perkembangan pemikiran feminisme dapat dipetakan dalam tiga gelombang besar seperti yang dikemukakan oleh Gadis Arivia dan Marta Rampton dan terdapat berbagai aliran pemikiran feminisme.

Menurut Gadis Arivia, gelombang pertama feminisme merupakan pergerakan perempuan yang menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas pergerakan perempuan, seperti menuntut hak dan keadilan. Ini diawali oleh pemikir-pemikir perempuan, yang dapat dibilang berada dibalik lahirnya Deklarasi Konvensi Hak-hak Perempuan di Seneca Falls, yang menginginkan adanya rumusan hak asasi perempuan. Gelombang kedua, pergerakan perempuan masuk ke ruang akademis. Pada gelombang ini, lahir berbagai kajian perempuan dengan teori-teori mengenai keadilan gender, penyebab ketidakadilan dan cara mengatasinya. Pada gelombang dua ini teori feminisme banyak dipengaruhi oleh filsafat eksistensialisme yang dikembangkan oleh Jean Paul Satre dan teori feminisme dari Simone de Beauvoir serta teori-teori psikoanalisa. Gelombang ketiga, muncul teori feminisme yang bersinggungan dengan pemikiran kontemporer dan berkutat pada masalah alienasi perempuan secara seksual, psikologis dan sastra dengan bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem.

Marta Rampton juga memetakan perkembangan feminisme dalam tiga gelombang. Menurut Rampton, gelombang pertama feminisme terjadi awal abad ke-20, muncul dari lingkungan industrialisme perkotaan. Gelombang pertama feminisme ini diawali dengan gerakan dalam konvensi Seneca Falls pada tahun 1848, ketika 300 pria dan perempuan bersatu mengemukakan kesetaraan gender. Elizabeth Cady Stanton yang menyusun deklarasi Seneca Falls menguraikan ideologi dan politik strategi gerakan baru yang fokusnya membuka kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan hak pilih. Gelombang kedua dimulai pada tahun 1960 dan berlanjut sampai tahun 1990-an. Gelombang ini berlangsung dalam konteks anti-Perang Vietnam dan gerakan hak-hak sipil yang telah menumbuhkan kesadaran diri berbagai kelompok minoritas di seluruh dunia. Ketika muncul The New Left (Kiri Baru), suara feminisme semakin radikal. Pada gelombang ini, gerakan feminisme menuntut kesamaan hak dan kesetaraan gender dan fokus pembicaraan adalah pada hak-hak seksualitas dan reproduksi. Gelombang ketiga, dimulai pada pertengahan 1990-an yang dipicu oleh pemikiran paskakolonial dan posmodern. Pada gelombang ini banyak konsep yang telah diterima secara universal, seperti perempuan universal, tubuh, gender dan seksualitas. Bila gerakan perempuan pada gelombang sebelumnya ditandai dengan pembebasan diri dari penindasan laki-laki, maka dalam gelombang ketiga ini memperlihatkan kebebasan perempuan dalam menampilkan diri terutama feminisme muda dengan penampilan yang mewah (lipstik, sepatu hak tinggi dan baju dengan leher berpotongan rendah). Rampton menggambarkan feminisme di gelombang ketiga sebagai berikut.

“An aspect of third wave feminism that mystifies the mothers of the earlier feminist movement is the readoption by young feminists of the very lipstick, high heels and cleavage proudly exposed by low cut necklines that the first two phases of the movement identified with male oppression. “

Rosemarie Putnam Tong dalam bukunya Feminist Thought mengemukakan bahwa feminisme punya sejarah panjang untuk memiliki label sendiri secara teoritis tanpa didasarkan pada pada label pemikir-pemikir besar (laki-laki) seperti pemikiran Marxis, John Stuart mill dan lainnya. Teori feminisme berkembang sesuai dengan paradigma berpikir manusia dengan titik perhatiannya pada persoalan perempuan. Sehubungan dengan itu, Tong mengemukakan berbagai terori feminisme diantaranya :

aliran feminisme liberal,

aliran feminisme radikal,

aliran feminisme eksitensialis,

aliran feminisme psikoanalisa,

aliran feminisme posmodern,

aliran feminisme multikultural

aliran posfeminis

Feminisme liberal adalah pandangan yang menempatkan perempuan sebagai subjek yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas yang merupakan sifat dasariah manusia. Perempuan adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk berpikir secara rasional. Teori feminisme liberal dapat disimak dalam pemikiran feminisme Mary Wollstenocraft yang berusaha menunjukkan hak-hak perempuan dengan menghadirkan gagasan ideal mengenai pendidikan bagi perempuan. Wollstenocraft mendorong perempuan untuk menjadi pembuat keputusan yang otonom dan menekankan bahwa jalan menuju otonomi harus ditempuh melalui pendidikan. Wollstenocraft menginginkan perempuan menjadi manusia utuh tidak diperlakukan sebagai objek yang dirawat suaminya dan bukan pula sebagai instrumen untuk kebahagiaan orang lain. Perempuan adalah suatu tujuan bagi dirinya, agen yang bernalar dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri.

Feminisme radikal merupakan pandangan yang menyorot bahwa sistem seks/gender sebagai penyebab fundamental dari opresi terhadap perempuan. Dalam pandangan feminisme radikal seksisme adalah bentuk opresi yang pertama, yang paling menyebar dan paling dalam. Feminisme radikal menolak fisiologi (kromoson, anatomi, hormon) laki-laki dan perempuan dijadikan dasar identitas dan perilaku maskulin dan feminin, karena hal ini dijadikan alasan untuk memberdayakan laki-laki dan melemahkan perempuan. Masyarakat patriarkal menggunakan peran gender yang kaku untuk memastikan perempuan tetap pasif dan laki-laki tetap aktif. Aliran ini berpandangan bahwa untuk mengubah kondisi ini, maka perempuan harus menyadari bahwa perempuan tidak ditakdirkan untuk pasif dan laki-laki aktif. Karena itu,harus dikembangkan kombinasi sifat-sifat maskulin dan feminin untuk merefleksikan kepribadian masing-masing.

Teori feminisme radikal dalam pemikiran Kate Millett mengungkapkan bahwa akar opresi terhadap perempuan terkubur dalam sistem seks/gender di dalam patriarki. Millett dalam bukunya Sexuals Politics (1970) berpendapat bahwa relasi gender adalah relasi kekuasaan. Kendali laki-laki dalam ruang domestik dan publik melahirkan patriarki. Untuk membebaskan perempuan dari penguasaan laki-laki, maka patriarki harus dihapus. Millett menginginkan masa depan yang androgin, suatu integrasi dari sifat feminin dan maskulin, karena kedua sifat ini saling melengkapi untuk hidup dengan baik dalam komunitas.

Feminisme eksistensialis mempersoalkan eksistensi perempuan. Teori feminisme eksistensialis berakar dari filsafat eksistensialisme, Jean Paul Satre. Dalam pandangan Satre, ada tiga modus “Ada” pada manusia yaitu etre en soi (“Ada” pada dirinya) etre pour soi (“Ada” bagi dirinya) dan etre pour les outres (“Ada” bagi orang lain). Cara berada manusia adalah etre pour soi yaitu cara berada yang memiliki kesadaran, kebebasan dan kritis. Tokoh feminisme eksistensialis, Simone De Beauvoir mengadopsi pemikiran Satre di atas. Dia menanggapi cara berada yang didefinisikan oleh Satre berbeda dengan perempuan. Cara berada perempuan dalam pandangan Satre etre pour les outres (ada bagi orang lain) bukan sebagai etre pour soi, yaitu cara berada manusia yang berkesadaran dan memiliki kebebasan, melainkan perempuan tidak berkesadaran (bukan subjek) dan tidak memiliki kebebasan, sehingga relasi gender merupakan relasi subjek-objek, dimana laki-laki mengobjekan perempuan dan membuatnya sebagai the other. Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second sex (1984) mengatakan bahwa eksistensi perempuan sebagai the other (yang lain) memandang perempuan sebagai makhluk lemah.

Teori feminisme pada setiap alirannya memuat pemahaman dan tujuan yang khas yaitu politis, ideologis dan emansipatoris dan memiliki pandangan dan tujuan yang sama terhadap perempuan. Dalam era kontemporer ini muncul berbagai teori feminis kontemporer seperti teori feminis Posmoderen, Multikultural dan pos feminis yang pada dasarnya berintikan hal yang sama yaitu teori mengenai keadilan gender, penyebab ketidakadilan dan cara mengatasinya, tapi dengan ciri-ciri yang berbeda. Ada tiga ciri penting dalam teori feminisme kontemporer, yaitu gender sebagai konstruksi sosial yang merugikan perempuan, dominasi laki-laki menjadi dasar bagi konstruksi terhadap perempuan dan pengetahuan dan pengalaman perempuan harus dilibatkan untuk mengembangkan suatu masyarakat non seksis dimasa yang akan datang.